Detak Jantung dan Segel Map: Saat Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka di Ruang Gelar Perkara

- Minggu, 21 Desember 2025 | 11:25 WIB
Detak Jantung dan Segel Map: Saat Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka di Ruang Gelar Perkara

Suasana di ruang gelar perkara itu tegang. Elida Netti, kuasa hukum Eggi Sudjana, menggambarkan bagaimana perdebatan sempat memanas sebelum akhirnya ijazah Presiden Joko Widodo dibuka. "Perdebatannya panas," ujarnya. Ada yang sampai merasa perlu memberi kuliah hukum dan menyalahkan pihaknya.

"Saya sempat emosi," akunya dalam tayangan YouTube Cumicumi, Jumat lalu. "Saya bilang, jangan menyalahkan orang. Kalau pendapat hukum kamu benar, silakan, tapi jangan menghakimi."

Pemicu ketegangan itu sederhana: pihak Jokowi sempat menolak prosedur yang diajukan kepolisian. Tapi akhirnya, mereka tak berkutik. "Karena itu hak kepolisian untuk membuka," ungkap Elida. Lalu, proses pun dimulai.

Sebuah map penyitaan bertanggal 23 Juni digunting di hadapan semua saksi. Transparan. Di barisan depan, selain Elida, ada juga kuasa hukum Roy Suryo, Ahmad Khozinuddin, serta Kurnia Tri Royani dan Rizal Fadillah. Saat segel itu dibuka, Elida mengaku merinding. Di dalamnya ada dokumen milik Jokowi, termasuk ijazah SMA dan S1-nya dari Fakultas Kehutanan UGM.

"Waktu digunting, jantung saya dag-dig-dug," tuturnya. Di luar ruangan ramai, dan dalam hati ia berdoa. "Ya Allah, ini sosok yang kita perdebatkan bertahun-tahun, sekarang mau kita lihat."

Ada larangan keras: tak seorang pun boleh memegang fisik ijazah itu. Tapi Elida nekat. Saat kesempatan itu datang, ia menyentuhnya. "Memang dilarang pegang, tapi kita tidak peduli. Selagi bisa megang, kita pegang. Dia mau tutup, saya tahan dengan ujung jari saya," ceritanya.

Tindakan spontan itu memberinya jawaban. Dengan ujung jari, ia merasakan embos atau tulisan timbul, melihat watermark, dan lintasan stempel. "Saya merinding dan terharu," tambahnya.

Lalu, bagaimana kondisi ijazahnya? Tua. Usang. "Di bagian bawahnya itu robek-robek, karena sudah puluhan tahun. Namanya kertas tua," kata Elida. Menurut pengakuannya, saat itu Kurnia Tri Royani memegang tangannya dan berbisik. Mereka bersyukur bisa melihat yang asli, setelah sekian lama hanya melihat fotokopi yang jadi sumber keributan.

"Apa sih salahnya lihat ijazahnya cuman begini doang," ucap Elida, menirukan percakapan itu. Ia pun termenung.

Bagi tim kuasa hukum Eggi Sudjana, momen ini memberi kepuasan. Elida menegaskan, apa yang dilihatnya adalah sumber dari semua fotokopi yang beredar. "Enggak mungkin fotokopi ini ada kalau enggak ada aslinya. Dan itu aslinya," tegasnya.

Meski begitu, ia tahu masih ada yang skeptis. Roy Suryo yang hadir di tempat, misalnya, disebutnya masih memegang keraguan berdasarkan keilmuannya. Tapi Elida memilih sikap lain. Baginya, langkah polisi membuka ijazah itu adalah tindakan elegan yang patut diapresiasi.

"Luar biasa gelar perkara hari ini," pujinya. "Allah membolak-balikkan hati pimpinan gelar perkara untuk mengurangi volume polemik. Bagi saya pribadi, saya puas."

Kepuasan itu ternyata dibayar mahal. Elida mengaku sempat dua malam tidak tidur karena stres menyiapkan legal opinion untuk kliennya. Tapi hasilnya, ia anggap sepadan. "Sesuatu yang selama ini tertutup, akhirnya dibuka di depan sekitar 30 orang."

Namun begitu, ia pesimis. Polemik ijazah Jokowi ini, menurutnya, belum tentu berakhir. "Sudah terlalu lama, ujungnya enggak pernah ketemu. Selalu jadi trending topic. Seolah-olah kita enggak punya isu lain," keluhnya.

Di akhir pernyataannya, Elida mengajak publik menggeser fokus. Daripada terus berkutat pada ijazah yang ia rasa sudah jelas, lebih baik beralih ke isu kebangsaan yang lebih mendesak. Misalnya, penanganan bencana atau transisi pemerintahan. Baginya, titik terang sudah ditemukan. Sekarang, waktunya untuk melangkah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar