Mereka bercerita. Mengeluarkan unek-unek, menyampaikan kebutuhan yang mendesak. Dan Teddy, Letkol TNI itu, dengan serius mencatat setiap poin yang disampaikan. Gerakannya cepat, tapi penuh perhatian. Buku kecil di tangannya menjadi alat penghubung yang nyata antara warga dan pemerintah.
Menurut sejumlah saksi, interaksi itu berlangsung natural. Tidak kaku. Teddy terlihat mendengarkan dengan kepala sedikit tertunduk, sesekali mengangguk, lalu menulis. Ia tidak berjanji muluk-muluk, hanya memastikan keluhan itu terdokumentasi.
Di tengah situasi bencana yang serba tidak pasti, tindakan sederhana seperti mencatat ternyata punya arti. Bagi warga, itu tanda bahwa suara mereka didengar. Bukan sekadar kunjungan formal, tapi ada upaya nyata untuk menampung aspirasi.
Memang, mencatat saja tidak cukup. Tapi setidaknya, itu langkah awal yang penting. Dan pada hari Kamis yang mendung di Agam itu, buku catatan kecil itu menjadi simbol kecil dari harapan.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu