Bayangan Kekerasan di Tengah Kerumunan
Malam di pengungsian punya iramanya sendiri: dengkuran, tangis bayi, dan bisik-bisik kekhawatiran. Tapi di balik itu, ada getaran ketakutan lain. Takut pada sentuhan yang tak diinginkan di kerumunan, atau pelecehan di balik sekat darurat yang cuma sehelai terpal.
Gender Alert 1 menyebut kondisi ini dengan tegas: pengungsi ditempatkan tanpa ruang aman dan privasi yang memadai. Kondisi ini, ditambah sanitasi buruk dan penerangan minim, adalah lahan subur bagi kekerasan berbasis gender. Laporan itu memperingatkan potensi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga perdagangan orang.
Gender Alert 2 kemudian mengusulkan solusi konkret: pembentukan komite pengelola kamp dengan minimal 50% perempuan di posisi pengambil keputusan, plus mekanisme pengaduan rahasia untuk korban.
Risiko serupa juga mengintai komunitas adat, seperti Tano Batak, yang memilih bertahan di wilayah leluhur. Mereka sering terpinggirkan dari sistem bantuan. Perempuan dan anak perempuan di sana menghadapi hambatan berlapis untuk sekadar mengakses informasi atau layanan kesehatan.
Jalan Panjang Menuju Pemulihan
Dua pekan pasca-bencana, fokus mulai bergeser dari penyelamatan ke pengelolaan pengungsian yang lebih bermartabat. Jaringan komunikasi mulai pulih, tapi ketergantungan tinggi pada ponsel membuat kelompok seperti lansia dan penyandang disabilitas tetap terisolasi.
Rekomendasi dalam laporan terbaru cukup detail. Mulai dari desain lokasi pengungsian yang aman dengan toilet terpisah, distribusi bantuan pada jam yang aman bagi perempuan, hingga penyediaan layanan kesehatan reproduksi. Poin kuncinya: layanan ini harus menjangkau mereka yang mengungsi mandiri di hunian informal, kelompok yang paling rentan tertinggal.
Semua rekomendasi ini berujung pada kerangka besar untuk solusi jangka panjang. Di dalamnya ada delapan kriteria, mulai dari keselamatan, standar hidup yang layak, hingga partisipasi di ruang publik. Ini pengakuan bahwa menutup posko pengungsian bukan akhir cerita. Cerita baru berakhir ketika para pengungsi, terutama perempuan, benar-benar mendapatkan kembali hak mereka dan bisa hidup tanpa rasa takut.
Senja itu, Sari akhirnya tiba kembali di tenda. Anak-anaknya menyambut dengan wajah haus. Ia menuangkan air, memberikannya pada si bungsu. Di luar, langit sudah kelam. Penerangan darurat belum semua menyala.
Ia menarik napas. Besok, perjalanan untuk air akan ia ulangi lagi. Tapi mungkin, jika rekomendasi dalam laporan itu tak cuma jadi tinta di kertas, jika titik air yang aman dan terang benar-benar tersedia, langkahnya besok tak akan sesendat hari ini.
Masih ada ratusan ribu cerita seperti Sari yang menunggu untuk berubah dari sekadar bertahan hidup, menjadi pulih dengan martabat. Perjalanannya masih panjang. Dan semua itu dimulai dari mengakui satu hal sederhana: bahwa di setiap bencana, ada darurat yang berwajah perempuan.
Artikel Terkait
Buku dan Pensil yang Tak Terbeli, Nyawa Bocah Ngada yang Tak Terselamatkan
Prabowo Undang Eks Menlu, Bahas Board of Peace hingga Palestina
Adies Kadir Siap Duduki Kursi MK, Gantikan Arief Hidayat
DPR Buka Peluang Kenaikan Setoran Awal Haji, Asalkan Hitungannya Nyata