Di sisi lain, versi dari pengurus BUMDes berbeda.
Ketika dikonfirmasi, Suherman (44) membantah bahwa becak itu 'disita' oleh BUMDes. Menurutnya, itu hanya titipan sementara di aula TPS 3R karena tempatnya memadai.
"Diterima BUMDes itu tidak," tegas Herman.
Ia mengaku prosesnya mendadak. "Malam ditelpon, paginya harus berangkat ke sana. Setelah dibawa pulang, langsung ramai. Tidak ada pemberitahuan awal."
Alasan penyimpanan, katanya, untuk mencegah kecemburuan sosial. Bantuan yang jumlahnya terbatas bisa memicu kegaduhan di masyarakat. "Kita rawat dulu," ujarnya.
Soal tiga nama penerima, Herman menjelaskan: Sudrajat memang staf BUMDes, tapi Muhtadi buruh lepas, dan Daklan sendiri pencetak bata. "Sampai hari ini, tidak ada satupun yang datang ke saya untuk meminta itu," klaimnya.
Meski begitu, Herman berjanji akan mendistribusikan becak tersebut. "Secepatnya kami akan menyerahkan, melihat kondusifitas di tengah masyarakat," pungkasnya.
Janji itu masih menggantung. Sementara bagi Daklan, becak listrik yang ia dambakan masih teronggok di gudang, jauh dari jalanan yang ia jalani setiap hari untuk mencari nafkah.
Artikel Terkait
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran
Pemerintah Proyeksikan Mudik Lebaran 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Nasional
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah