Membangun Kembali, Tapi Lebih Kuat
Namun begitu, pemulihan jangka panjang tidak boleh cuma mengembalikan keadaan seperti semula. Momentum pasca bencana ini harus dimanfaatkan untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh.
Normalisasi daerah aliran sungai (DAS), perbaikan tanggul dan drainase, serta pengelolaan lahan di hulu harus jadi agenda serius. Selain itu, petani perlu diedukasi tentang adaptasi perubahan iklim, diversifikasi usaha, dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Di titik inilah, penyuluh berperan sebagai penghubung menjembatani petani dengan program pemerintah dan memastikan suara mereka didengar dalam perencanaan.
Aspek Manusia yang Kerap Terlupa
Berdasarkan pengalaman mendampingi, tantangan terberat seringkali justru bukan di lahannya. Tapi di psikologis petani. Ada rasa lelah, trauma, dan putus asa yang dalam. Dalam situasi seperti ini, penyuluh nggak bisa cuma datang bawa data dan rekomendasi teknis.
Kita harus hadir sebagai pendengar. Sebagai penguat semangat. Menghidupkan kembali tradisi gotong royong dan menghargai kearifan lokal setempat sama pentingnya dengan perbaikan lahan. Target produksi itu perlu, ya. Tapi fondasi utamanya tetaplah kemanusiaan.
Bukan Akhir Cerita
Bencana ini adalah ujian berat bagi pertanian kita. Tapi saya yakin, dengan kolaborasi kuat antara pemerintah, penyuluh, dan petani, pemulihan itu mungkin. Bahkan bisa jadi titik balik menuju sistem yang lebih kokoh.
Sebagai penyuluh, saya percaya tugas kami bukan cuma mendampingi tanam dan panen. Tapi juga menjaga harapan para petani, agar tidak ikut hanyut terbawa banjir. Karena dari sawah yang kembali diolah, dari semangat petani yang bangkit lagi, ketahanan pangan negeri ini akan tetap bertahan.
Artikel Terkait
Jokowi Gencar Genjot PSI, Ambisi Tiga Periode Masih Menyala?
Dosen UI Soroti Bahaya Indonesia Jadi Stempel Zionis di Board of Peace
Menulis Ilmiah di Kampus: Antara Momok dan Hilangnya Tradisi Riset
Dialog Terbuka dan Ujian Nyata: Akankah Kedaulatan Kembali ke Rakyat?