Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Agam, Kamis pagi itu, ketika Presiden Prabowo Subianto tiba di posko pengungsian. Lokasinya di SD Negeri 5 Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, yang menjadi salah satu titik kumpul warga yang rumahnya diterjang banjir dan longsor. Suasana di sana campur aduk: ada kesibukan relawan, raut lelah pengungsi, dan kemudian kehadiran rombongan dari Jakarta.
Bupati setempat, Benni Warlis, bersama Kepala BNPB Letjen Suharyanto, langsung mendampingi Prabowo berkeliling. Mereka berjalan pelan, menyusuri lorong-lorong sekolah yang berubah fungsi jadi tempat bertahan hidup. Prabowo tak cuma diam. Ia menyapa, berjabat tangan, dan sesekali mengajak bicara warga yang ditemui. Percakapan singkat itu terasa seperti upaya menyentuh langsung denyut nadi kesulitan mereka.
Lalu, suasana haru itu datang.
Seorang kakek, wajahnya keriput penuh kisah, tak bisa menahan tangis di hadapan Presiden. Suaranya tercekat. Beberapa kali ia mengusap air mata dengan ujung sarungnya, berusaha menyampaikan sesuatu. Entah keluh kesah apa yang ia utarakan, yang jelas beban itu terasa berat.
Prabowo mendengarkan. Tanpa banyak kata, ia menepuk-nepuk pundak sang kakek. Sebuah gestur sederhana yang barangkali lebih bermakna dari seribu janji. Di tengah reruntuhan dan lumpur, ada momen hening yang bicara banyak.
Namun begitu, tak semua sudut penuh duka. Di ruang lain, tawa anak-anak justru pecah. Prabowo menyambangi posko trauma healing, tempat anak-anak korban bencana diajak bermain dan melupakan sejenak trauma. Begiau masuk, menyapa, dan langsung disambut sorak riang.
Antusiasme mereka jelas terlihat. Prabowo pun larut, menyalami dan berbincang ringan dengan para bocah. Ruangan yang semula untuk belajar itu, seketika berubah jadi tempat penghiburan yang cair dan penuh senyum.
Kunjungan kerja itu tak berhenti di posko pengungsian saja. Usai dari SD Negeri 5 Kayu Pasak, rencananya Prabowo akan melanjutkan peninjauan ke lokasi hunian sementara (huntara). Tempat itu disiapkan untuk warga yang benar-benar kehilangan tempat tinggal, sebagai bantuan jangka menengah sebelum mereka bisa benar-benar pulang. Perjalanan masih panjang, dan hari itu Presiden ingin melihat sendiri persiapannya.
Artikel Terkait
BEM SI Tinjau Langsung Gudang Bulog, Stok Beras Nasional Capai Rekor 5,2 Juta Ton
Presiden Prabowo Terima Laporan Reformasi Polri, Instruksikan Perubahan Bertahap hingga 2029
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Zero Tolerance terhadap Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Agama
118 BEM Nusantara Dialog Langsung dengan Mentan, Bahas Swasembada Pangan hingga Koperasi Desa