Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Agam, Kamis pagi itu, ketika Presiden Prabowo Subianto tiba di posko pengungsian. Lokasinya di SD Negeri 5 Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, yang menjadi salah satu titik kumpul warga yang rumahnya diterjang banjir dan longsor. Suasana di sana campur aduk: ada kesibukan relawan, raut lelah pengungsi, dan kemudian kehadiran rombongan dari Jakarta.
Bupati setempat, Benni Warlis, bersama Kepala BNPB Letjen Suharyanto, langsung mendampingi Prabowo berkeliling. Mereka berjalan pelan, menyusuri lorong-lorong sekolah yang berubah fungsi jadi tempat bertahan hidup. Prabowo tak cuma diam. Ia menyapa, berjabat tangan, dan sesekali mengajak bicara warga yang ditemui. Percakapan singkat itu terasa seperti upaya menyentuh langsung denyut nadi kesulitan mereka.
Lalu, suasana haru itu datang.
Seorang kakek, wajahnya keriput penuh kisah, tak bisa menahan tangis di hadapan Presiden. Suaranya tercekat. Beberapa kali ia mengusap air mata dengan ujung sarungnya, berusaha menyampaikan sesuatu. Entah keluh kesah apa yang ia utarakan, yang jelas beban itu terasa berat.
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Bocor, Tautan Indonesian CIA dan Transaksi Properti dengan Trump Mengarah ke Hary Tanoe
Motor Sudah Lunas, Malah Ditarik Paksa: Polisi Turun Tangan Bantu Ibu di Depok
Misi Evakuasi Berujung Maut, Petugas Satpol PP Tewas Dibacok ODGJ di Kebumen
Kesepian di Era Terhubung: Ironi Dunia yang Semakin Digital