Menariknya, ada langkah finansial yang mencurigakan dilakukan Sajid sebelum tragedi. Pada Februari 2024, dia mengalihkan kepemilikan rumah mereka di Bonnyrigg, Australia, sepenuhnya ke nama istrinya. Seolah mempersiapkan sesuatu.
Menurut catatan polisi Telangana, Sajid sempat pulang ke India enam kali setelah menetap di Australia. Tapi kunjungannya itu biasa saja, lebih banyak urusan keluarga seperti masalah properti atau menjenguk orang tua yang sudah tua.
“Bahkan saat ayahnya meninggal, dia tidak kembali,” tambah pihak kepolisian.
Yang paling mengejutkan, otoritas India sama sekali tidak menemukan catatan buruk tentang Sajid selama dia tinggal di sana.
“Kami tidak punya catatan negatif apa pun terhadapnya sebelum dia berangkat ke Australia,” tegas seorang sumber kepolisian.
Mereka juga menekankan bahwa proses radikalisasi yang dialami Sajid dan putranya tampaknya tidak ada kaitannya dengan India atau pengaruh lokal di Telangana. Keluarga besarnya di Hyderabad pun mengaku tak tahu-menahu. Mereka bingung, tidak melihat tanda-tanda pemikiran radikal atau aktivitas ekstrem dalam diri Sajid.
“Anggota keluarga menyatakan tidak mengetahui pola pikir radikal apa pun, termasuk proses yang menyebabkan radikalisasi,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Jadi, teka-teki latar belakang pelaku mungkin sudah terjawab. Tapi pertanyaan terbesar tetap menggantung: apa yang sebenarnya mengubah seorang ayah keluarga, yang dianggap biasa-biasa saja oleh sanak saudaranya, menjadi pelaku kekejaman seperti ini? Misteri itu masih gelap, dan mungkin akan tetap begitu untuk waktu yang lama.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions