"Kenapa ya, anak zaman sekarang lebih milih curhat ke temen, pacar, atau bahkan cuma lewat status medsos, ketimbang ke orang tuanya sendiri?" Pertanyaan ini kerap muncul, tapi jarang banget kita denger jawabannya dari sisi si anak.
Sebenarnya, ketika anak merasa nggak nyaman buat cerita, itu bukan berarti mereka nggak sayang. Seringkali, akar masalahnya justru ada di pola komunikasi yang udah terbentuk sejak dulu dan mungkin ada luka emosional yang belum benar-benar sembuh.
Menurut sejumlah pengakuan, salah satu alasan terbesar adalah rasa takut dihakimi. Coba bayangin, saat anak memberanikan diri buka suara, yang mereka terima malah ceramah panjang, perbandingan dengan si A atau si B, atau respons yang bikin perasaan mereka terasa nggak penting. Alhasil, alih-alih lega, yang ada malah rasa bersalah.
Orang tua juga kadang terlalu fokus cari solusi instan. Padahal, nggak semua curhatan butuh nasihat. Kadang, anak cuma pengen didengerin dan dimengerti aja. Kalau setiap keluhan selalu ditutup dengan, "harusnya kamu…" atau "kan udah dibilangin…", ya wajar dong kalau akhirnya mereka memilih untuk nggak cerita lagi. Buat apa? Malah nambah beban.
Di sisi lain, kehadiran emosional orang tua seringkali absen. Mereka ada secara fisik, tapi pikiran dan perhatiannya entah ke mana. Sibuk kerja, lelah, atau nggak benar-benar kasih ruang yang aman. Dalam situasi kayak gini, anak pasti merasa ceritanya nggak akan dianggap. Akhirnya, diam jadi pilihan.
Pengalaman buruk masa lalu punya andil besar. Pernah nggak, curhatannya malah disebar, dijadikan bahan candaan keluarga, atau cuma dirahasiain setengah hati? Sekali kepercayaan itu dikhianati, butuh waktu lama banget buat pulih. Rasa amannya runtuh.
Budaya di rumah juga pengaruh. Kalimat-kalimat kayak "anak nggak boleh membantah" atau "pokoknya orang tua selalu benar" seolah menormalisasi satu hal: kejujuran anak dianggap sebagai pembangkangan. Lama-lama, ya mereka memilih tutup mulut.
Lalu, Gimana Caranya Biar Komunikasi Bisa Nyambung?
Pertama, coba deh hadir tanpa langsung menghakimi. Banyak anak berhenti cerita bukan karena masalahnya berat, tapi karena respons awal orang tua udah bikin kapok. Cukup dengan mendengar tanpa memotong, itu sudah sangat berarti bagi mereka.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral