Di sisi utara Pasar Beringharjo, ada sebuah gang kecil yang ramai. Di sana, duduk seorang pria berkumis di atas kursi besi. Kaset-kaset pita berjajar rapi di rak kayu dan meja di sampingnya, bagai sebuah museum mini yang masih bernapas. Dia Priyo Sanyoto, usianya 68 tahun, dan sudah setia pada lapaknya sejak puluhan tahun silam.
Gang itu cuma selebar dua meter. Hiruk-pikuk lalu lalang orang tak mengganggunya. Priyo sabar menunggu. Bisa saja seharian tak ada yang membeli, tapi itu tak membuatnya pergi. Sejak 1988, ini sudah jadi ritme hidupnya.
"Kadang sehari ya "blong"," ujarnya suatu Selasa di pertengahan Desember.
Hari-hari sepi itu sudah biasa. Tapi Priyo selalu menyambut siapa pun yang mendekat, baik untuk membeli atau sekadar mengobrol. Senyumnya ramah.
"Silakan difoto. Bebas boleh foto semua," katanya. "Memang tinggal saya sendiri yang jualan kaset di sini."
Tangannya lalu meraih sebuah kaset. "Ini masih baru, tapi saya jualnya harga bekas," ucap Priyo sambil menunjukkan sampul "Light Classics Vol. 3" karya Waldo de los Rios.
Menurutnya, semua kaset yang dijual di lapaknya itu asli. Inilah kunci bertahannya. Lapak sederhana ini jadi tujuan para kolektor dan pencinta musik lawas yang paham betul soal orisinalitas.
"Asli. Kolektor itu baru lihat sudah tahu," beber Priyo dengan yakin.
Namun begitu, ceritanya agak berbeda untuk keping VCD yang ia jual. Beberapa di antaranya, diakuinya, adalah bajakan.
Semua ini berawal di tahun 1988. Kala itu, Priyo memulai usahanya di depan Mirota Batik, tepat di bawah Gauk atau sirine penanda waktu di kawasan Malioboro yang legendaris.
Lapaknya bertahan di sana sampai tahun 2012, sebelum akhirnya harus pindah ke Beringharjo karena lokasi lamanya tak lagi diizinkan untuk berjualan.
"Tahun 2012 pindah ke sini," kenangnya.
Dulu, di depan Mirota Batik, ada sekitar dua puluh pedagang kaset. Kini, satu per satu mereka menghilang. Zaman berubah, pasar pun berganti. Kaset tak lagi laku. Kebanyakan beralih menjual kaos atau barang lain yang lebih dicari.
"Sekarang tinggal saya sendiri. Yang lain alih profesi, banyak yang jual kaus," katanya.
Masa kejayaan Priyo, menurut pengakuannya, terjadi di era 90-an hingga awal 2000-an. Semuanya berubah drastis saat ponsel dan pemutar MP3 merebak. Musik bisa didengar dengan sekali klik.
"Kalah sama MP3," ujarnya singkat.
Meski kini sepi, bisnis kasetnya dulu cukup gemilang. Hasil berjualan itu bahkan sanggup membiayai pendidikan tiga anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.
Tapi zaman keemasan itu jelas sudah berlalu.
"Sekarang nggak bisa buat cari duit kaya dulu. Untuk makan sendiri aja kadang kurang," aku Priyo.
Kini, baginya, berjualan kaset lebih seperti pengisi kekosongan di masa tua. "Buat hiburan saja," tuturnya.
Di sisi lain, yang membuatnya tetap bertahan adalah para kolektor. Mereka masih rutin datang, bahkan dari jauh. Tentu ada tantangannya sendiri.
"Yang cari biasanya kolektor. Lagunya yang dicari yang "angel-angel"," cerita Priyo.
Di lapaknya, Anda tak akan menemukan lagu baru dalam bentuk kaset. Semuanya lawas. Kolektor sering memburu album band-band rock legendaris.
Mereka datang dari berbagai penjuru: Bandung, Jakarta, Surabaya, Kalimantan. Bahkan ada yang dari Malaysia. Kabar tentang lapak Priyo menyebar dari mulut ke mulut.
"Tapi "golekane", yang dicari yang susah-susah," jelasnya.
Untuk memenuhi permintaan langganannya, Priyo juga aktif berburu. Ia menyambangi Pasar Kliwon hingga Klithikan, mencari stok kaset bekas yang masih bagus. Perburuan ini penting agar koleksinya tetap beragam.
"Kaya Beatles itu carinya susah. Kalau campursari masih gampang. Tapi rock-rockan agak susah," katanya.
Beberapa pelanggan setia bahkan menitip pesanan khusus. Priyo diminta mencari album band tertentu yang langka.
"Ada yang tiga atau lima tahun sekali baru ke sini," ujarnya.
Ia pernah kebingunan sendiri mendengar permintaan seorang pelanggan yang terdengar sangat tidak biasa. Ternyata, setelah dicari, album yang dimaksud justru ada di tumpukan kasetnya.
Band seperti Beatles, Rolling Stones, hingga Queen tetap yang paling sering diburu. Harganya bervariasi. Untuk kaset biasa, Rp 20-25 ribu. Yang benar-benar langka bisa mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Dan kolektor sering menjualnya lagi dengan harga lebih tinggi.
Priyo merapikan kaset-kaset di mejanya. "Barangnya ini rutin saya bersihkan. Siap putar," katanya, menutup percakapan dengan bangga. Di gang kecil Beringharjo itu, dunianya masih berputar, meski pelan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu