Akibatnya bisa ditebak. Evakuasi jadi lamban, relokasi molor, rekonstruksi tak kunjung tuntas. Masalah mendasar dibiarkan mengendap. Yang penting narasinya aman, meski masalahnya belum selesai.
Lalu, Mengapa Pendekatan Holistik Sering Diabaikan?
Jawabannya sederhana sekaligus kompleks. Pendekatan holistik butuh nyali besar. Butuh keberanian untuk menegakkan hukum lingkungan, menyentuh kepentingan ekonomi yang mapan, dan bersedia menunggu hasil yang tidak instan secara politik. Dalam teori manajemen, pola pikir seperti ini disebut short-termism leadership. Pemimpin hanya berorientasi pada dampak jangka pendek, meski tahu itu merusak organisasi atau dalam hal ini, negara dalam jangka panjang.
Manajemen Tanpa Rasa Memiliki Selalu Gagal
Ada satu ciri khas pemimpin manajerial sejati: rasa ownership. Dia akan berkata, "Ini tanggung jawab saya."
Sebaliknya, pemimpin yang menolak rasa kepemilikan ini akan cenderung mencari kambing hitam. Kegagalan dikaburkan, kesalahan dialihkan ke pihak lain. Dalam perusahaan, pemimpin model begini biasanya cepat diganti. Tapi dalam konteks negara, kerugiannya ditanggung oleh rakyat biasa.
Sebagai Penutup
Memang, bencana alam tidak mungkin kita cegah sepenuhnya.
Tapi bencana kemanusiaan yang muncul karena salah kelola? Itu hal yang berbeda. Itu bisa dan harus dicegah.
Ketika seorang pemimpin gagal berpikir holistik, gagal bertindak terstruktur, dan lebih sibuk membela citra dirinya, maka krisis itu sendiri bukan lagi sekadar peristiwa. Ia menjadi produk dari manajemen yang keliru.
Dan seperti dalam organisasi mana pun, krisis yang cuma dikelola dengan narasi indah bukan sistem yang kuat akan terus berulang. Terus menerus.
Artikel Terkait
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali
Dua Pemudik Motor Terluka dalam Kecelakaan di Jalur Padat Cirebon
Polisi Ungkap Jaringan Konten Dewasa WNA di Bali, Pelaku Pakai Jaket Ojol untuk Viral