Catatan penting: Saya tetap yakin, diet untuk menurunkan berat badan harus diimbangi olahraga. Kalau cuma fokus pada makanan, biasanya yang terjadi adalah fenomena “bola bekel”. Berat badan turun, tapi begitu sedikit saja melanggar misalnya makan nasi lagi badan bisa melar dengan cepat.
Apalagi dengan diet ekstrem yang menghilangkan karbohidrat sama sekali. Berat badan bisa anjlok 2-5 kg dalam seminggu. Di awal-awal, pelakunya pasti senang. Merasa bahagia, merasa sangat sehat.
Tapi pertanyaannya, sampai kapan bisa bertahan tanpa karbohidrat? Apa harus seumur hidup? Padahal tubuh kita butuh itu. Saya sendiri pernah coba diet tinggi protein, makan telur banyak-banyak plus puasa intermitten. Hasilnya? Turun 2-3 kg dalam seminggu, tapi naik lagi dengan cepat.
Beberapa teman juga mengalami hal serupa. Turun beberapa kilo, lalu naik lagi dengan drastis. Jadi, menurunkan berat badan itu relatif mudah. Yang sulit adalah mempertahankannya.
Diet ekstrem memang menjanjikan penurunan berat badan yang cepat. Dan manusiawi kalau kita ingin hasil yang instan. Saya jadi teringat sebuah ungkapan ulama.
Saya percaya, cara diet yang benar ya seperti saran ahli gizi: tetap makan karbohidrat, tapi dikurangi porsinya, lalu diperbanyak olahraga khusus. Lebih bagus lagi kalau didampingi ahlinya. Hasilnya memang nggak kilat, butuh proses dan perjuangan.
Saya pernah bertemu orang-orang yang berat badannya turun karena olahraga rutin, lari atau bersepeda. Hasilnya terlihat setelah beberapa bulan, dan mereka pun istikamah.
Catatan terakhir: Untuk urusan diet, sekali lagi, terserah Anda. Nggak ada paksaan harus ikut ini atau larangan ikut itu. Itu hak Anda sepenuhnya. Saya pribadi memilih untuk mengikuti saran Kemenkes dan para ahli di bidangnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Artikel Terkait
Bripka Septian Gugur Saat Amankan Mudik di Pekalongan
Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Anggota DPR Tolak Wacana Sekolah Daring Mulai 2026, Ingatkan Trauma Learning Loss
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal