Minggu pagi di Papanggo, Jakarta Utara, suasana berbeda terlihat di sekitar Jakarta International Stadium. Bukan kerumunan penonton sepak bola, melainkan warga Rusun Kampung Bayam yang sibuk memetik jagung. Mereka memanen hasil kebun di lahan milik Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, dengan semangat yang nyaris tak terbendung.
Ini panen perdana mereka. Baru sekitar empat bulan mereka tinggal di rusun, setelah pindah dari permukiman padat. Ternyata, kerinduan pada tanah dan tanaman tak mudah hilang. Jagung yang menguning itu jadi buktinya.
Namun begitu, jagung bukan satu-satunya yang tumbuh di sana. Di petak-petak lain, terong dan kacang mulai merambat. Ada juga jahe, bahkan kolam untuk budidaya ikan. Lahan terbatas itu diolah sedemikian rupa, menjadi sumber penghidupan dan harapan baru.
Menurut Rohman, salah seorang warga berusia 38 tahun, hasil bumi itu kini mulai dinikmati sendiri.
"Kami jual ke sesama warga rusun, lewat kelompok ibu-ibu. Alhamdulillah, ada yang mau beli," ujarnya.
Di sisi lain, mimpi mereka sebenarnya lebih besar. Kelompok tani ini punya harapan yang sederhana namun penuh arti: mereka ingin pemerintah melihat jerih payah mereka. Bukan sekadar perhatian simbolis, tapi pengakuan bahwa usaha kecil ini punya nilai.
Yang paling mereka idamkan? Agar hasil panen kebun mereka bisa menembus pasar-pasar tradisional di Jakarta. Bayangkan, jagung dan terong segar dari Kampung Bayam tersaji di meja makan keluarga ibu kota. Itu impian yang mereka rawat setiap hari, sambil menyiangi gulma dan menyirami tanaman di antara bayang-bayang stadion megah.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1