Menurut Rohman, salah seorang warga berusia 38 tahun, hasil bumi itu kini mulai dinikmati sendiri.
Di sisi lain, mimpi mereka sebenarnya lebih besar. Kelompok tani ini punya harapan yang sederhana namun penuh arti: mereka ingin pemerintah melihat jerih payah mereka. Bukan sekadar perhatian simbolis, tapi pengakuan bahwa usaha kecil ini punya nilai.
Yang paling mereka idamkan? Agar hasil panen kebun mereka bisa menembus pasar-pasar tradisional di Jakarta. Bayangkan, jagung dan terong segar dari Kampung Bayam tersaji di meja makan keluarga ibu kota. Itu impian yang mereka rawat setiap hari, sambil menyiangi gulma dan menyirami tanaman di antara bayang-bayang stadion megah.
Artikel Terkait
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama