Suara ledakan kembali mengguncang Lebanon pada Kamis lalu. Menurut militer Israel, serangan udara yang mereka lancarkan berhasil menewaskan seorang anggota pasukan Quds Iran. Korban dituding sebagai otak di balik rencana serangan terhadap Israel.
Identitasnya disebut sebagai Hussein Mahmud Marshad al-Jawhari. Lewat sebuah pernyataan, militer Israel mendeskripsikannya sebagai "teroris kunci" di unit operasional Pasukan Quds, yang merupakan cabang khusus Korps Garda Revolusi Iran.
"Hussein terlibat dalam kegiatan teror, yang diarahkan oleh Iran, terhadap negara Israel dan pasukan keamanannya dari Lebanon dan Suriah,"
Begitu bunyi keterangan resmi mereka, seperti dilansir kantor berita AFP.
Sejauh ini, Iran memang dikenal sebagai pendukung utama sejumlah kelompok militan di kawasan. Dukungan itu membentuk apa yang sering disebut sebagai poros perlawanan, dengan Hizbullah di Lebanon sebagai salah satu ujung tombaknya. Kelompok inilah yang sudah lama berhadapan langsung dengan Israel.
Di sisi lain, otoritas Lebanon punya versi sendiri soal dampak serangan itu. Menurut keterangan kementerian kesehatan setempat, serangan Israel di wilayah Hawsh al-Sayyed Ali menewaskan dua orang. Lokasinya di distrik Hermel, daerah timur laut yang berbatasan dengan Suriah.
Bukan cuma di sana. Laporan terpisah menyebutkan satu orang lagi tewas akibat serangan di Majdal Selm, kota yang terletak di bagian selatan Lebanon.
Soal korban di Majdal Selm ini, Israel punya klaim tegas. Mereka menyatakan orang yang tewas di sana adalah anggota Hizbullah. Serangkaian serangan ini, singkatnya, memperpanjang daftar ketegangan yang sepertinya tak kunjung reda di perbatasan.
Artikel Terkait
Pria di Makassar Ditangkap Usai Aniaya Istri dengan Kipas Angin
Mentan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam 5 Tahun, Jadikan NTB Sentra Utama
Timnas Indonesia U-17 Dibantai China 0-7 dalam Uji Coba Pahit
Thomas Aquinas Dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia