Lalu, kemana hasil panennya? Agus mengungkapkan, ada yang dibagikan untuk sedekah, ada pula yang dijual. Pemkot Jakarta Timur punya program bernama Pasar Tumbuh, yang digagas Wali Kota, dan hasil bumi dari kolong tol ini ikut meramaikan.
“Kita harus ikut program itu. Jadi ya, kawan-kawan ada yang jual pisang, sawi, kangkung. Semuanya hasil dari sini, dari urban farming kolong tol,” imbuhnya.
Cerita serupa datang dari Jamal, petugas PPSU lain yang menggarap lahan sekitar 150 meter persegi sejak tahun lalu. Di lahannya, jagung, terong, ubi jalar, dan sawi tumbuh berdampingan.
“Bibitnya kita dapat dari KPKP atau kelurahan. Apa yang dikasih, itu yang kita tanam,” kata Jamal.
Tantangan dari Langit dan Tanah
Tentu, jalan mereka tak selalu mulus. Jamal bercerita, gagal panen pernah dialaminya. Faktor utamanya? Cuaca dan kondisi media tanam.
“Itu pasti ada. Kalau medianya bagus tapi cuaca enggak mendukung, ya bisa hancur,” ungkapnya.
“Kita rajin pupuk dan rawat, tapi kalau sinar mataharinya kurang, ya tanaman enggak bisa optimal. Harus cocok,” pungkas Jamal.
Namun begitu, semangat mereka tak surut. Lahan kosong yang dulu dianggap tak berguna, kini justru memberi kehidupan baik berupa kehijauan yang menyejukkan, maupun hasil bumi yang nyata.
Artikel Terkait
25 Kilogram Kokain Diamankan di Pesisir Selayar, Diduga Bagian Jaringan Internasional
TASPEN Gelar Mudik Gratis untuk 1.400 Pemudik dengan Asuransi Rp20 Juta
Pemkot Makassar Izinkan Takbiran di Lingkungan, Larang Konvoi dan Petasan
Lebaran 2026: Kekuatan Ucapan Tulus Jembatani Jarak dan Pererat Silaturahmi