Kiai NU Jawa Desak Musyawarah Luar Biasa, Ancam Bentuk PBNU Tandingan

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 22:50 WIB
Kiai NU Jawa Desak Musyawarah Luar Biasa, Ancam Bentuk PBNU Tandingan

Suasana di Hotel Preanger, Bandung, Jumat lalu, cukup tegang. Sejumlah kiai Nahdlatul Ulama dari berbagai pesantren di Jawa berkumpul. Hasil pertemuan itu mengejutkan: mereka mendesak agar Pengurus Besar NU segera menggelar Musyawarah Luar Biasa.

Desakan ini bukan tanpa sebab. Konflik internal yang memanas pasca pencopotan Gus Yahya dan pengangkatan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketum, dinilai sudah keterlaluan. Umat gelisah. Padahal, seruan untuk islah sudah berkali-kali disampaikan. Tapi, ternyata tak digubris.

“Kami forum Kiai NU Jawa menyatakan mosi tidak percaya,” tegas Faris Fuad Hasyim, koordinator forum, dalam rilisnya.

Menurutnya, mosi itu ditujukan ke semua pengurus besar, baik dari kubu Miftahul Akhyar maupun Yahya Cholil Staquf.

Gus Faris, begitu ia disapa, kemudian menyampaikan tuntutan yang lebih keras. Ia meminta Rais Aam, Ketua Tanfidz, hingga Sekjen PBNU hasil Muktamar Lampung untuk mundur. Semua. Itu bentuk pertanggungjawaban atas kekisruhan yang tak kunjung reda.

Jalan keluarnya cuma satu: MLB. Forum tertinggi organisasi itu dianggap sebagai cara paling konstitusional dan bermartabat untuk klarifikasi, evaluasi, sekaligus koreksi total. Agar netral, kepanitiaannya harus melibatkan unsur PBNU, PWNU, dan PCNU.

“Kami juga menolak Miftahul Akhyar, Yahya Cholil, dan Maulana Yusuf dalam MLB,” sambungnya.

Lebih baik, katanya, mengusung calon yang benar-benar netral.

Waktunya pun dipatok. Tiga bulan ke depan. Forum ini memberi ultimatum. Jika MLB tak kunjung digelar dalam batas waktu itu, mereka tak akan tinggal diam. Ancaman membentuk PBNU tandingan sebagai wadah konsolidasi NU kultural, disiapkan.

Di sisi lain, ada usulan yang cukup mengejutkan. Forum ini mengajak tokoh-tokoh kharismatik di luar lingkaran konflik untuk turun tangan membangun NU kembali.

“Di antaranya Haji Rhoma Irama serta sejumlah ulama dan budayawan yang memiliki legitimasi moral dan basis budaya luas untuk mengurus PBNU,” jelas Faris.

Ajakan itu seperti angin segar di tengah kebuntuan. Mencari figur yang punya pengaruh luas, tapi diharapkan bisa berdiri di atas semua kepentingan yang sedang berseteru. Langkahnya drastis, tapi bagi mereka yang berkumpul di Bandung, situasinya sudah darurat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar