Trump Klaim Bisa Hentikan Baku Tembak, Padahal Gencatan Senjata Sudah Tandatangani

- Kamis, 11 Desember 2025 | 10:54 WIB
Trump Klaim Bisa Hentikan Baku Tembak, Padahal Gencatan Senjata Sudah Tandatangani

Sudah empat hari pertempuran berkecamuk. Perbatasan Thailand-Kamboja yang membentang sepanjang 817 kilometer itu, Rabu kemarin, kembali memanas dengan laporan baku tembak di lebih dari selusin titik. Suara dentuman artileri seakan tak mau berhenti.

Gelombang kekerasan terbaru ini rupanya menarik perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia dengan percaya diri menyatakan akan menelepon kedua pemimpin negara. Trump yakin bisa mengulang sukses, menghentikan lagi konflik antara dua tetangga ASEAN ini.

"Saya rasa saya dapat menghentikan mereka bertempur. Saya dijadwalkan untuk berbicara dengan mereka besok,"

kata Trump kemarin, seperti dilansir Reuters. Rencananya, pertemuan itu akan digelar hari ini, Kamis.

Ini jadi ironi yang pahit. Sebab, sebenarnya Thailand dan Kamboja sudah sepakat gencatan senjata. Oktober lalu, di Kuala Lumpur, Trump sendiri bersama PM Malaysia Anwar Ibrahim menyaksikan penandatanganannya. Tapi nyatanya, kesepakatan itu rapuh. Sangat rapuh.

Di sisi lain, upaya mediasi terus berjalan. Anwar Ibrahim disebut telah berbicara dengan kedua pihak pada Selasa. Memang belum ada titik terang yang pasti, tapi Anwar menghargai kemauan Thailand dan Kamboja untuk tetap bernegosiasi. Setidaknya, itu secercah harapan.

Di lapangan, situasinya tetap suram. Tuding-menuding jadi hal biasa. Kedua negara saling menyalahkan atas awal pertempuran pekan ini. Yang lebih memilukan, masing-masing menuduh pihak lain sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan artileri dan roket mereka.

Pernyataan Menteri Dalam Negeri Kamboja menggambarkan betapa parahnya dampaknya. Ia menyebut rumah, sekolah, hingga pagoda dan kuil kuno rusak berat. Penyebabnya? Penembakan intensif dari Thailand, plus serangan udara pesawat F-16 yang diklaim menembus jauh hingga 30 kilometer ke dalam wilayah Kamboja, menghantam desa dan pusat permukiman.

Korban jiwa di pihak sipil pun berjatuhan. Di Kamboja, 10 orang tewas termasuk seorang bayi dan 60 lainnya luka-luka. Thailand melaporkan 6 prajurit gugur dan 80 orang terluka. Ratusan ribu warga dari kedua sisi perbatasan terpaksa meninggalkan rumah mereka, mengungsi ketakutan. Sebuah tragedi kemanusiaan yang seolah tak berujung.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar