Lebih dari Dua Meter, Lebih dari Prediksi: Kisah Pilu Korban Banjir Aceh Tamiang

- Rabu, 10 Desember 2025 | 23:06 WIB
Lebih dari Dua Meter, Lebih dari Prediksi: Kisah Pilu Korban Banjir Aceh Tamiang

Ingatan Cut tentang banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang masih terasa sangat jelas. Air yang datang tiba-tiba itu, menurutnya, mencapai ketinggian yang mengejutkan: tiga meter. Jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan.

"Lebih 2 meter, lebih dari prediksi," ujar Cut, ditemui di tepi jalan Kabupaten Aceh Tamiang pada suatu Selasa sore.

Ditemani Dodi, ia bercerita. Sebelum bencana menerjang, hujan deras sudah mengguyur wilayah itu tanpa henti selama tiga hari penuh.

Hujan mulai turun sejak Sabtu dan berlanjut hingga Senin. Lalu, pada hari Rabu, semuanya berubah. Rumah-rumah di sekitarnya, di Kecamatan Tamiang Hulu, langsung terendam tanpa ampun.

"Enggak ada bentuk lagi semua bangunan. Air semua, Bapak lihat itu gedung Muhammadiyah, sampai atas ketinggian air," katanya, suaranya terdengar berat.

Saat banjir melibas rumahnya, Cut sempat nekat turun untuk menyelamatkan barang-barang. Tapi usahanya sia-sia belaka.

"Saya hampir hanyut selamatkan barang. Tapi enggak dapat, uang enggak ada habis semua," kenangnya.

Kini, Cut dan Dodi tinggal di pengungsian sementara. Hidup mereka bergantung pada sembako dari pemerintah atau relawan. Mereka rela menunggu di pinggir jalan, demi sesuap nasi.

"Abang tahu bagaimana ekonomi Aceh Tamiang? Sulit bisa kami katakan, kami makan enggak makan, jadi pengemis kami, sedih abang coba bayangkan," tutur Dodi.

"Inilah fakta, tidur di bawah pohon pakai tenda dan kayu," tambahnya, melengkapi gambaran keprihatinan itu.

Di sisi lain, Kantor Bupati setempat telah disulap menjadi posko pengungsian utama. Bantuan berdatangan: beras, pakaian, obat-obatan, dan bahan pokok lainnya. Namun, suasana di luar masih suram. Pasar banyak yang tutup, jalanan terlihat habis tak bersisa disapu arus banjir.

Menurut Cut, bantuan dari posko itu belum bisa disalurkan ke kampung-kampung. Akibatnya, warga terpaksa datang sendiri untuk mengambilnya.

Masalahnya, jaraknya cukup jauh. Sekitar 5 kilometer dari tempat mereka. Dan mereka tak punya kendaraan untuk menempuhnya.

"Baginilah kami apa adanya, tunggu menunggu, ini makan nunggu dari orang-orang di jalan, siapa yang lewat dikasih. Kalau kami nunggu di kampung enggak makan," keluh Dodi.

Di tengah semua kesulitan itu, harapan mereka sederhana. Mereka cuma berharap bantuan yang disalurkan tepat sasaran, tanpa ada pemotongan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Kami beras tolong dibantu," pinta Dodi, menutup pembicaraan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar