Di Balik Suasana Mencekam, PBNU Tetapkan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum

- Rabu, 10 Desember 2025 | 05:20 WIB
Di Balik Suasana Mencekam, PBNU Tetapkan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum

Di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, suasana rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Selasa (9/12) lalu terasa cukup mencekam. Dari ruang rapat itulah akhirnya muncul keputusan penting: KH Zulfa Mustofa ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum.

Pengumuman resmi itu disampaikan langsung oleh Rais Syuriah PBNU, M Nuh, yang memimpin jalannya rapat pleno.

“Penetapan Penjabat ketua umum PBNU masa bakti sisa sekarang ini Yang Mulia Bapak KH Zulfa Mustofa,” ujarnya tegas.

Sebelumnya, Zulfa memang sudah tak asing lagi di struktur internal NU. Pria ini menduduki posisi Wakil Ketua Umum PBNU. Jadi, langkahnya naik ke kursi pimpinan sementara bisa dibilang sebuah transisi yang wajar.

Menurut M Nuh, masa jabatan Zulfa nggak akan lama-lama banget. Ia diperkirakan hanya akan memimpin sampai Muktamar PBNu digelar tahun 2026 nanti.

“Oleh karena itu beliau akan memimpin PBNU sebagai Pj Ketum melaksanakan tugas-tugasnya sampai dengan muktamar yang insyaallah akan dilaksanakan di 2026,” jelasnya.

Rapat pleno ini sendiri digelar bukan tanpa sebab. Latar belakangnya adalah pemecatan KH Yahya Cholil Staquf dari posisi Ketua Umum PBNU, sebuah keputusan yang sebelumnya sudah dikeluarkan oleh Rais Aam.

Lalu, siapa sebenarnya KH Zulfa Mustofa ini?

Ia bukanlah nama baru. Di kalangan Nahdliyin, Zulfa dikenal sebagai ulama sekaligus ahli Ushul Al-Fiqh yang punya dasar keilmuan kuat. Tak cuma itu, ternyata dia juga seorang penyair ulung. Reputasinya sebagai tokoh yang teguh memegang prinsip-prinsip NU sudah tak diragukan lagi.

Soal latar belakang keluarga, garis keturunannya memang istimewa.

Zulfa berasal dari keluarga ulama terpandang. Yang paling mencolok, dia adalah keponakan dari Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin. Ibundanya, Nyai Hajjah Maimunah, adalah saudara kandung Ma'ruf Amin sendiri. Lebih jauh lagi, darah ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani mengalir dalam dirinya, mengukuhkan posisinya dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara.

Pendidikannya ditempuh di berbagai pondok pesantren, membentuknya menjadi ahli agama khususnya di bidang Ushul Fikih. Prestasinya diakui bahkan oleh dunia akademik formal. UIN Sunan Ampel Surabaya, misalnya, menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Arudl, yaitu ilmu tentang metrum puisi Arab.

Kini, di tengah situasi yang cukup panas, tugas berat ada di pundaknya. Zulfa Mustofa dituntut untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menuju muktamar tahun depan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar