Konsumen AS Menentukan Nasib Wall Street di Momen Black Friday

- Sabtu, 22 November 2025 | 22:05 WIB
Konsumen AS Menentukan Nasib Wall Street di Momen Black Friday

Wall Street bersiap. Pekan depan, mata para investor bakal tertuju pada satu hal: seberapa kuat daya beli konsumen Amerika. Pasalnya, musim belanja akhir tahun segera dimulai, dibuka dengan tradisi Black Friday yang selalu dinanti.

Sentimen pasar di bulan November ini memang masih terasa lesu, terdampak oleh shutdown pemerintah yang baru saja usai. Nah, di tengah kondisi seperti ini, data belanja konsumen diharapkan bisa jadi penunjuk arah yang jelas bagi investor untuk menutup tahun.

Chris Fasciano, Chief Market Strategist di Commonwealth Financial Network, punya pandangan menarik.

"Dari sisi sentimen, pembacaan awal yang kita antisipasi adalah Black Friday dan Cyber Monday. Mengapa? Karena data yang tersedia sangat minim, jadi momen ini akan menjadi sangat penting," ujarnya.

Fasciano menambahkan, periode belanja sepanjang akhir tahun ini akan menjadi data indikasi penting untuk melihat posisi konsumen saat ini dan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Memang, aktivitas belanja warga Amerika selalu jadi sorotan utama. Alasannya sederhana tapi krusial: sektor ini menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi Negeri Paman Sam. Pekan libur Thanksgiving, yang diikuti oleh Black Friday dan segudang promo hingga akhir tahun, dipandang sebagai tolok ukur penting untuk mengukur kesehatan konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, ada faktor lain yang bermain. Kinerja pasar saham sendiri dipercaya akan memengaruhi pola belanja kelompok berpendapatan tinggi. Kelompok ini kan paparannya terhadap saham biasanya lebih besar.

Doug Beath, seorang Global Equity Strategist di Wells Fargo Investment Institute, mengungkapkan kekhawatirannya.

"Jika terjadi penurunan, mengingat banyak kekayaan kelompok berpendapatan tinggi tersimpan di pasar saham, maka ini jadi menarik untuk dilihat. Apakah pola belanja mereka akan tetap sama seperti sebelumnya?" tanyanya.

Lalu, bagaimana proyksinya? National Retail Federation memproyeksikan penjualan ritel akhir tahun di Amerika bisa menembus angka fantastis: USD 1 triliun untuk pertama kalinya. Namun begitu, ada catatan. Proyeksi pertumbuhan untuk periode November-Desember hanya berada di kisaran 3,7% hingga 4,2%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 4,3%.

Selain menunggu euforia belanja, investor pekan depan juga bakal menanti rilis data penjualan ritel AS untuk bulan September. Data ini sempat tertunda akibat penutupan pemerintah yang berlangsung selama 43 hari. Menurut sejumlah analis, deretan data yang menumpuk ini berpotensi menambah volatilitas pasar. Semua ini pada akhirnya akan digunakan untuk membaca peluang pemangkasan suku bunga The Fed, yang rencananya menggelar pertemuan pada 9-10 Desember mendatang.

Jadi, semua mata tertuju pada konsumen. Mereka lah yang akan menentukan arah pasar di sisa tahun 2025 ini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar