Di Kalimantan, ada sebuah kisah nyata tentang seorang pria yang percaya bahwa pena bisa lebih berbahaya daripada senjata. Namanya Abi Kusno Nachran. Seorang jurnalis yang, bertahun-tahun lamanya, tak gentar menantang para pemodal besar perusak hutan. Laporannya tajam, mengupas tuntas praktik pembalakan liar, membongkar jaringan mafia kayu yang rumit, dan menelusuri aliran dana para cukong yang selama ini seolah kebal hukum.
Ancaman? Itu sudah jadi menu harian. Sejak awal, Abi tahu betul risikonya. Menyentuh kepentingan para pemain besar itu ibarat menggali liang kubur sendiri. Tapi dia tetap maju. Investigasi yang mendalam dan tulisan-tulisannya yang detail bikin banyak pihak gerah. Teror datang silih berganti, namun semangatnya tak pernah padam.
Puncaknya terjadi di tahun 2003. Serangan brutal itu terjadi secara terang-terangan. Sekelompok preman menghajarnya dengan parang, meninggalkan luka parah yang membuatnya cacat permanen. Abi sempat koma, nyaris tak tertolong. Tapi, lihatlah. Saat akhirnya siuman, bukannya mengibarkan bendera putih, dia justru mengambil langkah yang lebih berani: maju ke gelanggang politik. Dia mencalonkan diri sebagai anggota DPD dan menang. Kekuasaan itu kemudian dia jadikan senjata baru untuk terus memperjuangkan hutan Kalimantan.
Artikel Terkait
25 Kilogram Kokain Diamankan di Pesisir Selayar, Diduga Bagian Jaringan Internasional
TASPEN Gelar Mudik Gratis untuk 1.400 Pemudik dengan Asuransi Rp20 Juta
Pemkot Makassar Izinkan Takbiran di Lingkungan, Larang Konvoi dan Petasan
Lebaran 2026: Kekuatan Ucapan Tulus Jembatani Jarak dan Pererat Silaturahmi