Abi Kusno: Pena dan Parang di Rimba Kalimantan

- Selasa, 09 Desember 2025 | 14:20 WIB
Abi Kusno: Pena dan Parang di Rimba Kalimantan

Di Kalimantan, ada sebuah kisah nyata tentang seorang pria yang percaya bahwa pena bisa lebih berbahaya daripada senjata. Namanya Abi Kusno Nachran. Seorang jurnalis yang, bertahun-tahun lamanya, tak gentar menantang para pemodal besar perusak hutan. Laporannya tajam, mengupas tuntas praktik pembalakan liar, membongkar jaringan mafia kayu yang rumit, dan menelusuri aliran dana para cukong yang selama ini seolah kebal hukum.

Ancaman? Itu sudah jadi menu harian. Sejak awal, Abi tahu betul risikonya. Menyentuh kepentingan para pemain besar itu ibarat menggali liang kubur sendiri. Tapi dia tetap maju. Investigasi yang mendalam dan tulisan-tulisannya yang detail bikin banyak pihak gerah. Teror datang silih berganti, namun semangatnya tak pernah padam.

Puncaknya terjadi di tahun 2003. Serangan brutal itu terjadi secara terang-terangan. Sekelompok preman menghajarnya dengan parang, meninggalkan luka parah yang membuatnya cacat permanen. Abi sempat koma, nyaris tak tertolong. Tapi, lihatlah. Saat akhirnya siuman, bukannya mengibarkan bendera putih, dia justru mengambil langkah yang lebih berani: maju ke gelanggang politik. Dia mencalonkan diri sebagai anggota DPD dan menang. Kekuasaan itu kemudian dia jadikan senjata baru untuk terus memperjuangkan hutan Kalimantan.

Jadi anggota dewan, Abi malah makin garang. Dia aktif menghadang setiap jalur ilegal kayu. Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika dia berhasil menggagalkan keberangkatan tiga kapal asal Tiongkok yang hendak membawa kayu curian dari kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Aksi itu membuat namanya makin dikenal sekaligus membuat ancaman terhadap nyawanya membesar.

Teror itu terus membayangi, tak pernah benar-benar pergi, hingga akhir hayatnya menjemput. Kematiannya memang penuh tanda tanya. Tapi satu hal yang pasti: Abi Kusno wafat sebagai seorang pejuang. Dia tegak berdiri melawan korupsi, ketamakan, dan kerusakan yang menggerogoti lingkungannya.

Dia gugur, mungkin karena berjuang sendirian. Sekarang, giliran kita. Nyalanya tak boleh padam. Kalau kita ingin hutan Kalimantan tetap bernapas, maka keberanian seperti yang dimiliki Abi harus terus hidup, diwariskan, dan diperjuangkan bersama-sama.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler