Misteri Guru di Bogor: Tangan Terikat, Mayat Terbungkus Plastik Biru

- Selasa, 09 Desember 2025 | 07:06 WIB
Misteri Guru di Bogor: Tangan Terikat, Mayat Terbungkus Plastik Biru

Sabtu (6/12) lalu, suasana Tlajung Udik di Gunung Putri, Bogor, tampak seperti biasa. Tapi ketenangan itu menipu. Di pinggir jalan, dekat sebuah angkot yang terparkir, seorang wanita tergeletak tak bergerak. Tubuhnya terbungkus mantel plastik berwarna biru. Pemandangan yang sungguh janggal dan langsung memancing tanya.

Tak ada suara ribut, tak ada saksi yang benar-benar paham apa yang terjadi. Hanya ada jejak misterius yang berujung pada satu kesimpulan: kematian yang terlihat jauh dari wajar. Belakangan, video penemuan wanita itu pun ramai beredar di media sosial.

Lantas, apa saja yang sudah terungkap sejauh ini?

Tanda Kekerasan di Tangan

Kapolsek Gunung Putri, Kompol Aulia Robby, mengonfirmasi adanya indikasi kekerasan. Yang paling mencolok, kondisi tangan korban ditemukan dalam keadaan terikat dengan tali plastik.

Korban kemudian berhasil diidentifikasi. Dia adalah Arifianti, 41 tahun, warga Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

"Korban ditemukan dalam posisi telungkup di samping angkot yang terparkir, dan sudah meninggal dunia," kata Aulia, Senin (8/12).

Boncengan Misterius di Motor

Menurut penuturan Aulia, ada informasi penting dari saksi mata. Korban sempat terlihat dibonceng seseorang. Nah, saat itu pun tangannya sudah diikat.

Saksi sempat berusaha menegur pengendara motor itu. Sayangnya, teguran itu cuma diabaikan begitu saja.

"Saksi melihat korban (saat masih berboncengan di motor Vario hitam) dengan kondisi tangan penumpang perempuan terikat tali dan kaki terseret di aspal," jelas Aulia.
"Pengemudi motor mengabaikan teguran saksi dan sempat berhenti di warung untuk membetulkan posisi korban," lanjutnya.

Hingga kini, polisi masih menyelidiki siapa sosok yang membonceng Arifianti itu.

Profesi di Balik Nama

Ternyata, Arifianti adalah seorang guru. Ia mengajar siswa kelas 3 di sebuah sekolah dasar swasta di Depok.

“Kegiatan sehari-hari, mengajar. Biasanya pulang sore atau malam, seperti itu,” ujar Agus, suami almarhumah, saat ditemui di rumah kontrakan mereka di Depok.

Agus bercerita, istrinya terakhir kali terlihat hidup pada Sabtu pagi, sekitar pukul 07.00 WIB. Itu hari yang sama ketika jenazahnya ditemukan.

“Terakhir itu sekitar jam 7 sudah pergi dari rumah, tapi tidak ada informasi mau ke mana,” kenang Agus.
“Komunikasi terakhir soal akses internet. Jadi saya mencoba untuk menyelesaikan urusan internet, pembayaran-pembayaran kayak gitu. Itu aja interaksinya.”

Agus sendiri pagi itu sudah berada di Jakarta, di rumah ibunya. Anak mereka pun sedang belajar. Menurut pelacakan, komunikasi terputus setelah zuhur.

“Kalau di-tracking, setelah zuhur antara pukul 13.00 WIB dan pukul 14.00 WIB itu sudah tidak ada komunikasi lagi,” ujarnya.

Panggilan yang Tak Terjawab

Kisah serupa datang dari L, anak kandung korban. Ibunya sempat menelepon tapi tak diangkat.

“Ibu missed call sebelumnya, menjelang pukul 11.00, perkara WiFi. Di situ masalahnya ternyata selesai, WiFi-nya sudah benar lagi,” ujarnya.

L mencoba menghubungi balik sekitar pukul 14.00 WIB. Ponsel masih menyala, tapi tak ada jawaban. Kabar buruk baru sampai ke telinganya jauh malam hari.

“Saya mendapatkan kabar ibu sudah tidak ada itu pukul 21.30 WIB,” ucap L dengan pilu.

Pengejaran Pelaku

Saat ini, polisi tengah berupaya memburu pelaku. Fokus utama tentu saja pada sosok yang membonceng korban dengan motor Vario hitam.

"Polisi sudah masuk ke tahap mengkerucutkan seseorang atau pelaku, jadi ya mereka sedang berjuang keras," ujar Agus.

Agus menyebut petugas dari Polres Bogor dan Polsek Gunung Putri telah mendapatkan sejumlah informasi. Pencarian sedang digencarkan.

"Harapan kami, pelaku ketemu, diperlakukan seadil-adilnya," kata Agus.

Barang Berharga yang Raib

Agus juga punya kecurigaan lain. Ia menduga harta benda istrinya hilang, setidaknya ponsel.

"Asumsi saya barang tidak ditemukan, kenapa, karena kemarin itu polisi mencari barang bukti di rumah kontrakan kami, barang buktinya tidak ada hanya ada dusnya. Dusnya itulah yang dipakai sebagai barang bukti," papar Agus.

Semua detail itu kini menjadi kepingan puzzle yang coba disusun polisi. Misteri di Tlajung Udik masih menunggu terpecahkan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar