Kini, mereka kebingungan. Mencari WO baru dalam waktu sempit itu bukan perkara mudah, apalagi harus mengeluarkan biaya lagi dari kantong sendiri. Uang cadangan yang ada disebutnya tak akan cukup menutup kerugian yang sudah terlanjur besar.
"Gagal aja udah jadinya. Mana 21 Desember, dua minggu lagi," keluhnya. "Sedangkan undangan udah disebar beberapa gitu. Keluarga aku udah nyebarin undangan, keluarga Mas-nya juga gitu. Kalang kabut sih otaknya sekarang, nggak tahu mau gimana."
Di sisi lain, kasus ini ternyata jauh lebih besar. Wedding organizer yang berkantor di Cipayung dan Pulogadung, Jakarta Timur, itu diduga telah menelan korban hingga 88 klien dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Salah satu korban bahkan baru melapor pada 7 Desember, atau tepat sehari setelah pernikahannya yang berantakan digelar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, membeberkan pola modusnya. "Jadi korban dalam hal ini konsumen ingin melakukan pernikahan. Mereka menyewa WO, tetapi tidak sesuai spek, baik itu tenda, baik itu katering, maupun booth yang ada. Pada saat dikonfirmasi tidak ada respons," jelas Budi.
Video yang beredar di media sosial pun cukup menggambarkan kekacauan itu: sebuah pesta pernikahan dengan meja makanan kosong, hanya ada wadah tanpa isi. Di dekorasi wadah itu, terpampang nama WO yang sedang jadi sorotan.
Polisi Jakarta Utara kini telah mengamankan pemilik WO berinisial APD. Empat orang lain yang diduga terlibat, yaitu HE, HDP, DHP, dan RR, juga turut diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut. Sementara bagi Miftahul dan puluhan korban lainnya, perjuangan untuk mendapatkan keadilan dan mungkin menyelamatkan hari bahagia mereka baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral