Di sebuah simposium di Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyuarakan hal yang cukup tegas. Ketahanan pangan Indonesia, katanya, tak bisa lagi dilihat dengan kacamata lama. Pendekatan masa lalu sudah usang.
Menurutnya, konsep itu kini jauh lebih luas. Bukan cuma soal bisa produksi berapa ton, tapi juga bagaimana rantai pasoknya bertahan, dan yang tak kalah penting, kualitas SDM yang menjalankannya.
"Setidaknya ada lima perubahan besar yang akan mendefinisikan masa depan sektor pangan Indonesia," ujar Atip dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan, Senin (8/12) lalu.
Ia mengawali dengan menyinggung pesan dari Presiden Prabowo. Jaminan ketersediaan pangan, disebutkannya berkali-kali, adalah ukuran utama keberhasilan sebuah pemerintahan.
"Tidak ada negara yang makmur, negara maju, akan tetapi tidak memiliki ketersediaan pangan yang cukup," tegas Atip, mengulang pernyataan presiden.
Lalu, apa saja lima perubahan besar itu?
Pertama, semuanya akan dijalankan oleh data dan teknologi. Bayangkan, dari pertanian sampai pengolahan, semuanya dikendalikan oleh internet of things, sensor yang memantau tanah dan cuaca, otomasi, serta analisis data supply-demand yang cermat.
"Tenaga kerja pangan masa depan bukan lagi sekadar pekerja fisik, tetapi operator teknologi, teknisi cerdas, dan analis proses," paparnya.
Kedua, keberlanjutan jadi kata kunci. Efisiensi air, pengurangan limbah, ekonomi sirkular, dan praktik ramah lingkungan akan mendominasi. Imbasnya, lapangan kerja 'hijau' atau green jobs di sektor ini diprediksi bakal meledak.
Artikel Terkait
Keluarga dan Rekan KKP Lepas Yoga Naufal, Korban Kecelakaan Pesawat, di Tengah Isak Tangis
Khaby Lame Cetak Sejarah: Kesepakatan Rp 15,1 Triliun Ubah Status Raja TikTok Jadi Konglomerat Digital
Longsor Cisarua: Trauma Ibu-Ibu Hamil dan Pencarian 83 Korban Hilang
Tim SAR Bertahan di Medan Sulit, Relokasi Warga Cisarua Mulai Dirancang