Buku bacaan untuk anak-anak saat ini dinilai terlalu sempit. Kritik ini dilontarkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Menurutnya, terlalu banyak cerita yang mengagungkan profesi modern seperti pilot atau dokter, sementara pekerjaan yang berakar pada alam dan budaya lokal nyaris tak muncul.
"Buku-buku bacaan kita kurang memberikan inspirasi tentang profesi petani," ujarnya.
"Akibatnya, anak-anak kita cuma terimajinasi dengan profesi-profesi modern."
Mu’ti tak menampik pentingnya profesi modern. Namun begitu, ia merasa hal itu tak harus berarti mengabaikan basis kultural yang dimiliki negeri ini, khususnya di sektor pertanian. Ia punya gambaran yang jelas tentang bagaimana seharusnya sosok petani ditampilkan.
"Kita buatlah buku-buku bacaan bagaimana petani itu makmur, kaya, pintar, ganteng, cantik," katanya dengan semangat.
"Badannya sehat karena selalu ke sawah, tidak pernah kekurangan vitamin D."
Di sisi lain, Mu’ti melihat ada masalah yang lebih mendasar. Pendidikan, lewat bahan bacaan, seharusnya menjadi jembatan bagi anak untuk mengenal lingkungan terdekatnya. Kenyataannya? Banyak anak justru lebih paham konsep-konsep jauh ketimbang dunia di sekeliling mereka.
Artikel Terkait
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love