"Anak-anak tinggal di laut tidak mengerti ikan-ikan apa yang ada di laut dekat dia tinggal," jelasnya.
"Bagaimana hidupnya, perilakunya. Alhasil, mereka jadi tidak ramah kepada alam."
Intinya sederhana: anak bisa hafal nama negara, tapi tak kenal jenis ikan atau tanaman di wilayahnya sendiri. Ini yang perlu diubah.
Bagi Mu’ti, pembaruan bahan bacaan bukan sekadar urusan mengganti konten. Ini harus jadi bagian dari gerakan budaya yang lebih luas. Tujuannya agar anak-anak paham bahwa semua profesi punya arti, dan setiap pilihan kerja bisa menghantarkan pada kehidupan yang sejahtera.
"Saya melakukan kritik internal lah terhadap kebijakan-kebijakan di kementerian," pungkasnya.
"Termasuk penyediaan bahan bacaan yang menginspirasi anak bahwa semua profesi itu penting, bermakna, dan bisa membuat sejahtera."
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral