"Anak-anak tinggal di laut tidak mengerti ikan-ikan apa yang ada di laut dekat dia tinggal," jelasnya.
"Bagaimana hidupnya, perilakunya. Alhasil, mereka jadi tidak ramah kepada alam."
Intinya sederhana: anak bisa hafal nama negara, tapi tak kenal jenis ikan atau tanaman di wilayahnya sendiri. Ini yang perlu diubah.
Bagi Mu’ti, pembaruan bahan bacaan bukan sekadar urusan mengganti konten. Ini harus jadi bagian dari gerakan budaya yang lebih luas. Tujuannya agar anak-anak paham bahwa semua profesi punya arti, dan setiap pilihan kerja bisa menghantarkan pada kehidupan yang sejahtera.
"Saya melakukan kritik internal lah terhadap kebijakan-kebijakan di kementerian," pungkasnya.
"Termasuk penyediaan bahan bacaan yang menginspirasi anak bahwa semua profesi itu penting, bermakna, dan bisa membuat sejahtera."
Artikel Terkait
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat