Rasanya seperti dikhianati dua kali: pertama oleh alam, lalu oleh cara cerita penderitaan mereka disampaikan.
bayangin, berita ini dibaca langsung oleh orang yang keluarganya habis karena terdampak bencana.
bayangin, berita ini dibaca langsung oleh ribuan orang yang selamat tapi masih kelaparan karena belum dapat akses bantuan.
Unggahan dari akun WatchmenID itu, meski singkat, berhasil menyentuh banyak orang. Ia mengingatkan kita tentang jarak yang sering terbentang antara laporan jurnalistik dengan realita di lapangan. Antara narasi yang disusun rapi di meja redaksi, dengan jerit pilu yang terdengar di lokasi bencana.
Pesan utamanya jelas: setiap kali menulis, coba lah melihat dari sudut pandang mereka yang paling terdampak. Karena berita bukan hanya informasi. Bagi sebagian orang, itu adalah cermin yang memantulkan luka mereka sendiri.
Artikel Terkait
Kepala Polresta Sleman Dicopot Usai Kasus Pembelaan Diri Berujung Maut
Cinta Tak Kenal Usia: Kisah Sopir Truk dan Majikannya yang Akhirnya Sah di KUA
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos
Roy Suryo dan Dokter Tifa Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik ke MK