Rasanya seperti dikhianati dua kali: pertama oleh alam, lalu oleh cara cerita penderitaan mereka disampaikan.
bayangin, berita ini dibaca langsung oleh orang yang keluarganya habis karena terdampak bencana.
bayangin, berita ini dibaca langsung oleh ribuan orang yang selamat tapi masih kelaparan karena belum dapat akses bantuan.
Unggahan dari akun WatchmenID itu, meski singkat, berhasil menyentuh banyak orang. Ia mengingatkan kita tentang jarak yang sering terbentang antara laporan jurnalistik dengan realita di lapangan. Antara narasi yang disusun rapi di meja redaksi, dengan jerit pilu yang terdengar di lokasi bencana.
Pesan utamanya jelas: setiap kali menulis, coba lah melihat dari sudut pandang mereka yang paling terdampak. Karena berita bukan hanya informasi. Bagi sebagian orang, itu adalah cermin yang memantulkan luka mereka sendiri.
Artikel Terkait
Di Tengah Dunia yang Cepat, Seni Mendengar Jadi Barang Langka
Catatan Terakhir di Kantong Sang Komandan: Al-Quran dan Doa di Tengah Gencatan Senjata yang Retak
Bayi Gaza Lahir di Tengah Bayang Kematian: Data Kesehatan Bantah Klaim Israel
Amir Hamzah Soroti DPR: Dukungan Polri di Bawah Presiden Dinilai Manipulasi Konstitusi