Rebranding Pasar Senen Jadi Pusat Brand Lokal: Pro Kontra & Dampak Bagi Pedagang

- Senin, 10 November 2025 | 07:12 WIB
Rebranding Pasar Senen Jadi Pusat Brand Lokal: Pro Kontra & Dampak Bagi Pedagang

Rebranding Pasar Senen Jadi Pusat Brand Lokal: Respons Pedagang & Rencana Pemerintah

Pasar Senen Jakarta diproyeksikan mengalami transformasi besar. Pasar yang lama dikenal sebagai pusat thrifting atau penjualan pakaian bekas ini direncanakan akan direbranding menjadi pusat produk dan brand lokal. Kebijakan ini menuai beragam tanggapan, terutama dari para pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di sana.

Kekhawatiran Pedagang Pasar Senen Soal Rebranding

Marijan (56), pedagang jas dan blazer bekas sejak 1991, menyoroti potensi dampak rebranding terhadap skema bisnis yang telah berjalan. Selama ini, ia beroperasi dengan sistem consignment, di mana barang dagangan disuplai tanpa modal awal dan baru dibayar setelah laku. Ia mempertanyakan apakah model bisnis brand lokal dapat mengakomodir sistem serupa.

"Sampai ratusan juta utang sama bos-bos itu (penyuplai). Apa pemerintah mau begitu? Apa UKM yang bikin-bikin di sana sanggup ngasih utang dulu? Dijual dulu baru dikasih duit," ujar Marijan.

Perspektif Lain tentang Ancaman bagi Brand Lokal

Merespons anggapan pemerintah bahwa pakaian bekas impor menghambat brand lokal, Marijan justru melihat ancaman yang lebih besar. Menurutnya, fokus seharusnya pada membanjirnya pakaian baru impor yang mendominasi pasar.

"Mending yang gede dulu habisin. Semua dari China sekarang, pakaian baru, pakaian muslim juga. Sekarang di Tanah Abang itu kan yang menghantam produk dan brand lokal," tambahnya.

Tantangan Mengubah Citra Pusat Thrifting

Efrial (47), pedagang topi bekas sejak 1995, mengungkapkan bahwa mengubah citra Pasar Senen akan sulit. Lokasi ini telah mengakar kuat di benak masyarakat sebagai tujuan utama thrifting di wilayah Jabodetabek dan Banten.

"Kayaknya susah (dijadikan pusat brand lokal), soalnya dari dulu tahunya di sini begini. Dari mana-mana aja, Jabodetabek, Serang, Banten, belanjanya ke sini semua," kata Efrial, yang juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana pembatasan impor pakaian bekas.

Langkah dan Komitmen Pemerintah

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM telah melakukan pertemuan dengan perwakilan pedagang. Deputi Bidang Usaha Kecil, Temmy Satya Permana, menyatakan kesiapan pedagang untuk beralih, meski proses transisi diprediksi membutuhkan waktu.

Secara paralel, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi akan menerbitkan aturan baru untuk menindak praktik impor pakaian bekas, memperkuat komitmen pemerintah dalam mendorong pertumbuhan brand lokal.

Rencana rebranding Pasar Senen ini menjadi pembahasan penting yang mempertemukan kepentingan revitalisasi ekonomi lokal dengan nasib para pedagang tradisional yang telah membangun usaha mereka selama puluhan tahun.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar