Di tengah forum internasional di Doha, kemarin, suasana mendadak tegang. Christiane Amanpour dari CNN melontarkan pertanyaan yang menusuk langsung ke Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa. Ia menyinggung soal masa lalu sang pemimpin, yang kerap dicap sebagai "teroris".
Al-Sharaa tak menghindar. Jawabannya justru balik menohok, penuh amarah yang tersimpan lama.
"Seorang teroris itu yang membunuh warga sipil tak berdosa. Anak-anak, perempuan, tanpa alasan yang bisa diterima akal sehat. Lihat saja Gaza – lebih dari 60.000 nyawa Palestina melayang. Lalu, apa bedanya dengan rezim kriminal (Assad) di Suriah? Mereka membantai, menggusur, mengubur ratusan ribu orang. Sekitar 250.000 lainnya hilang begitu saja. Jangan lupakan Irak dan Afghanistan."
Nadanya meninggi, tegas.
"Mereka yang membunuh orang tak bersalah di negara-negara itu, sambil sibuk melabeli orang lain sebagai teroris, merekalah teroris sejati."
Menurut sejumlah saksi, ia lalu beralih membela rekam jejaknya sendiri. Saat pasukannya merebut Damaskus, klaimnya, tidak ada gelombang pengungsi yang panik keluar kota. Malah, yang dilakukan pertama kali adalah membuka pintu-pintu penjara. Tahanan dibebaskan, bukan dibantai.
Lalu, bagaimana dengan hubungannya di masa lalu dengan kelompok seperti Al Qaeda? Dan yang tak kalah penting, soal hak-hak perempuan di Suriah baru nanti?
Al-Sharaa menjawab singkat untuk yang terakhir. Perempuan akan punya tempat dalam pemerintahannya. Itu jaminan.
"Pemilu akan kita gelar. Empat tahun setelah Konstitusi siap," ujarnya, menutup pembicaraan.
Forum pun berlanjut, namun gaung pernyataannya masih terasa. Sebuah pembelaan yang keras, sekaligus tuduhan balik yang tak kalah pedas.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu