Trump Serukan Koalisi Kapal Perang Internasional untuk Jaga Selat Hormuz

- Minggu, 15 Maret 2026 | 03:45 WIB
Trump Serukan Koalisi Kapal Perang Internasional untuk Jaga Selat Hormuz

Washington Lewat unggahan di Truth Social, Sabtu lalu, Donald Trump punya seruan terbuka. Mantan Presiden AS itu meminta sejumlah negara, mulai dari China, Prancis, hingga Inggris, untuk mengerahkan kapal perang mereka ke Selat Hormuz. Tujuannya jelas: menjaga perairan strategis itu tetap terbuka untuk lalu lintas kapal internasional.

"Saya harap China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya yang terdampak pembatasan artifisial ini akan mengirimkan kapal mereka ke sana," tulis Trump.

Ia menambahkan, "Selat Hormuz tak akan lagi menjadi ancaman bagi sebuah negara yang telah sepenuhnya dihancurkan."

Pernyataan itu tak berdiri sendiri. Trump juga bersumpah akan terus menjatuhkan bom di pesisir Iran. Bahkan, kata dia, AS akan "terus-menerus menembaki kapal-kapal dan perahu-perahu Iran." Semua tindakan itu, klaimnya, demi satu hal: menjamin keamanan dan kebebasan pelayaran di selat sempit itu.

Latar belakang seruan ini memang panas. Kita mundur sedikit ke akhir Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Sasaran termasuk Teheran. Serangan itu meninggalkan kerusakan infrastruktur yang parah dan, tentu saja, korban jiwa.

Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.

Eskalasi militer inilah yang kemudian memicu blokade "de facto" di Selat Hormuz. Padahal, selat ini adalah jalur nadi bagi pengiriman minyak dan gas LPG dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Gangguan ini langsung terasa. Ekspor dan produksi minyak di kawasan Teluk pun ikut terdampak, menambah ketidakpastian di pasar energi dunia.

Di sisi lain, situasi ini membuat negara-negara lain ikut merasakan dampaknya. Itu mungkin yang mendasari seruan Trump untuk membentuk semacam koalisi maritim. Meski begitu, nada ancaman yang ia sampaikan terhadap Iran terasa sangat keras dan justru berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut.

Sumber: Sputnik

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar