Sabtu (14/3) lalu, di Hotel Amaris Pancoran, Jakarta, ruang diskusi dipenuhi oleh mereka yang peduli dengan satu isu yang sering kita anggap remeh: uap di SPBU. Aliansi Jurnalis Video (AJV) bidang Lingkungan Hidup menggelar forum publik yang mengangkat pertanyaan kritis, "Uap Beracun Berbahaya (VOCs) di POM Bensin, Bagaimana Solusinya?"
Persoalannya nyata. Emisi uap bahan bakar di stasiun pengisian bukan cuma bau yang mengganggu. Lebih dari itu, ia berpotensi menggerogoti kesehatan manusia dan merusak lingkungan di sekitarnya.
Chandra, selaku Ketua AJV, membuka pembicaraan. Menurutnya, ini adalah diskusi ketiga yang mereka selenggarakan khusus membahas soal uap bahan bakar ini. Harapannya jelas: forum ini bisa melahirkan solusi konkret. "Supaya masyarakat nggak lagi was-was setiap kali harus ke SPBU," ujarnya.
Tak hanya untuk masyarakat, hasil diskusi ini juga diharapkan bisa menjadi masukan berharga bagi pemerintah. Tujuannya, agar lahir kebijakan yang benar-benar melindungi warga dari paparan senyawa berbahaya itu.
Lalu, adakah solusi teknis di lapangan? Brigitta Manohara menjawabnya. Ia menjelaskan, sebenarnya teknologi untuk menangkap uap bensin yang terlepas ke udara itu sudah ada. Uap itu bisa dikondensasikan, diolah kembali menjadi bahan bakar. Nilainya fantastis.
Teknologi yang dimaksud adalah Vapor Recovery System (VRS). Ahli pemasangannya, Baidi, menerangkan cara kerjanya. Alat ini menangkap uap Volatile Organic Compounds (VOCs) dari proses pengisian dan penyimpanan bensin. Uap itu kemudian disuling dan didinginkan hingga kembali jadi BBM cair. Prosesnya butuh waktu sekitar setengah jam sampai satu jam.
"Dari mesin awal, alat ini mampu menangkap sekitar 75–80 persen uap VOC," jelas Baidi.
Artikel Terkait
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka dengan Syarat Khusus
Politisi DPR Kecam Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Andrie Yunus
Polisi Megamendung Amankan 30 Botol Miras dalam Patroli Ramadan
Amri/Nita Akui Masalah Konsistensi Usai Gagal ke Final Swiss Open