Hingga saat ini, dua dari empat desa di kecamatan itu masih terisolasi. Nasib warga yang kehilangan tempat tinggal pun serba darurat. Sebagian terpaksa mendirikan tenda di hutan, hidup dalam ketidakpastian.
Seorang warga bernama Nur mengungkapkan keprihatinannya.
“Kami yang sangat perlu sekarang makanan pokok dan baju. Seperti beras, mi instan, garam, gula, kawan nasi, itu yang sangat dibutuhkan saat ini. Kami baju gak ada lagi,” katanya.
Data dari BPBD Nagan Raya memperjelas skala bencana ini. Ada 250 rumah warga yang rusak. Lebih dari itu, dampaknya meluas ke 8.258 kepala keluarga atau sekitar 25.608 jiwa yang harus menanggung akibatnya. Situasinya memang berat, dan pemulihan tampaknya masih panjang.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral