āš» Catatan Tere Liye
Awalnya saya kira ini berita resmi dari detik. Ternyata salah. Ini cuma tulisan seorang mantan pejabat. Siapa dia? Hadi Daryanto, Sekjen Kementerian Kehutanan periode 2010-2015.
Lalu, apa isinya? Intinya sih membela soal pelepasan hutan seluas 1,6 juta hektare di era Menteri Kehutanan Zulhas. Yang bikin geleng-geleng, website berita macam Detik dan kawan-kawannya kok mau ya memuat tulisan model beginian. Bahkan ada yang sampai repot bikin infografis di media sosialnya. Seolah-olah itu fakta yang berimbang.
Nah, kira-kira apa yang ditulis oleh Hadi, anak buah Zulhas ini?
Pertama, dia berusaha mengarang indah dengan klaim: Zulhas sama sekali tidak pernah melepas hutan untuk kebun sawit. "Lihat saja," katanya, "ini ada surat keputusan Zulhas tentang tata ruang."
Kedua, menurut Hadi, yang dilakukan Zulhas itu cuma memutihkan alias melegalkan hutan-hutan yang sudah terlanjur diokupasi penduduk. Biar konflik agraria nggak merunyak, katanya, lebih baik dilegalkan saja. Diputihkan. Katanya lagi, itu sesuai aspirasi masyarakat Riau sepenuhnya.
Dan yang paling ditekankan: sumpah, nggak ada sama sekali pelepasan hutan untuk kelapa sawit! Maksudnya, publik harus paham situasi sebenarnya agar tidak terjadi distorsi informasi, bla bla bla.
Sungguh, saya kadang heran sekaligus kagum sama mantan pejabat dan juga pejabat yang masih aktif sekarang. Kok bisa ya mereka begitu pede, seolah-olah seluruh rakyat ini bisa dibodohi dengan gampang. Cukup dengan satu dua tulisan, mereka pikir opini bisa digiring dan pembenaran akan didapat.
Padahal, justru tulisan mantan anak buah Zulhas ini malah mengakui secara terbuka satu hal. Zulhas pernah mengeluarkan SK untuk melegalkan okupansi hutan. Dasar, ambyar!
Memang sih, di mana-mana kalian nggak pernah ngasih surat yang bunyinya langsung: "ini lahan untuk sawit atau tambang". Yang ada, kalian ubah tata ruangnya. Itu triknya.
Bahkan saat kalian kasih konsesi ribuan hektare ke perusahaan-perusahaan besar, suratnya bukan berisi bagi-bagi hutan ke oligarki. Isinya selalu diawali dengan "menimbang", "mengingat", dan seterusnya. Pokoknya, tata ruang wilayah diubah. Satu juta hektare untuk si A, satu juta hektare lagi untuk si B.
Kalau betulan mau melindungi hutan, caranya sederhana: tidak ada satu jengkal pun kawasan hutan yang dikasihkan ke siapapun. Titik. Nggak ada pemutihan. Malah, kalau perlu, tata ruang yang bukan hutan justru dipaksa jadi hutan lewat reboisasi atau cara lain.
Buat kalian yang kemakan tulisan Hadi dan postingan media sosial yang mendukungnya, ya sudahlah. Kalian memang gampang dibodohi. Coba kritis dikit, lah.
Ngomong-ngomong, Hadi, kamu disuruh Zulhas nulis ini, ya?
(Tere Liye)
"fb
Artikel Terkait
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1