“Lewat doa ini, kami cuma bisa memohon pada Yang Maha Kuasa. Semoga saudara-saudara kita yang kena musibah diberi ketabahan dan bantuan yang cukup untuk pulih,” tambah Usmandy lagi.
Ada satu momen spesial dalam doa itu. Mereka juga mengungkapkan rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto. Bagi para kader, penghargaan itu dinilai sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa almarhum semasa hidupnya.
Tak lupa, doa khusus juga dipanjatkan untuk Sintang sendiri. Mereka memohon agar kabupaten ini selalu dalam lindungan, jauh dari bencana, dan terus rukun dalam perbedaan. Harapan untuk tanah kelahiran selalu punya tempat tersendiri.
Suasana haru jelas terasa sepanjang acara berlangsung. Solidaritas dan kepedulian sosial itu seperti menjadi benang merah yang menyatukan. Perayaan ke-61 ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa nilai kekaryaan itu nyata, bukan cuma di atas kertas, tapi dalam aksi peduli terhadap sesama.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Tahuna, Pusatnya Hanya 10 Kilometer
Ketua Komisi III Geram: Korban Penjambret Dijerat Hukum, Keluarga Pelaku Malah Minta Uang Kerahiman
Keluarga Penjambret Minta Uang Kerahiman, Komisi III Geleng-geleng
Remaja 16 Tahun Tewas Ditusuk Saat Bela Teman dari Aksi Perundungan di Anyer