Gunungan Cangkang Kerang di Kalibaru: Janji Penanganan dan Bau yang Tak Kunjung Sirna

- Jumat, 05 Desember 2025 | 20:18 WIB
Gunungan Cangkang Kerang di Kalibaru: Janji Penanganan dan Bau yang Tak Kunjung Sirna

Aroma laut yang tajam, campuran amis dan sedikit asin, langsung menyergap hidung begitu memasuki Kampung Kerang di Kalibaru, Cilincing. Di balik bau yang menyengat itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Tangan-tangan para pekerja tetap lincah, mencongkel daging kerang dari cangkangnya dengan gerakan yang sudah sangat mahir.

Cangkang-cangkang kosong itu lalu berterbangan, mendarat dan menumpuk tak karuan di pesisir. Lama-lama, jadilah gunungan.

Di atas tumpukan putih keabuan itu, kawanan lalat sibuk hilir mudik. Sesekali mereka bubar berhamburan, ketika seorang pekerja melemparkan karung baru yang sudah penuh. Aktivitas buang-buang cangkang ini terjadi terus-menerus, seolah tak ada habisnya. Yang mengkhawatirkan, bahaya dari limbah ini baik untuk kesehatan maupun lingkungan seperti diabaikan begitu saja.

Menurut Suparni, warga setempat, dulu keadaan tidak separah ini. Ia tak ingat persis tahunnya, tapi dulu cangkang kerang masih diangkut petugas kebersihan. Hasil budidaya kala itu juga belum sebanyak sekarang.

"Dulu nggak ada gunung cangkang gini," katanya suatu Jumat di awal Desember, sambil menunjuk ke arah tumpukan yang kian meninggi.

Namun begitu, seiring datangnya banyak 'bos' atau pemilik lapak kerang, praktik pembuangan pun berubah. Limbah cangkang mulai menumpuk dan tak terkendali. Setiap hari, jumlahnya sudah tak terhitung lagi. Bahkan ada satu lapak yang beroperasi nonstop 24 jam, yang dari situ saja bisa menghasilkan ribuan cangkang per hari.

"Ya, dari bos-bos itu awalnya buang ke sini. Banyak bos di sini," ujar Suparni.

"Satu lapak aja hampir seratus karung. Ini banyak bosnya, dari ujung ke ujung. Bayangin aja. Apalagi jelang Natal dan tahun baru ini," tambahnya dengan nada prihatin.

Ia berharap ada solusi dari pemerintah. Soalnya, dampak negatif dari gunungan cangkang itu sudah mulai terasa. "Saya juga sebenernya gak suka, keberatan," tuturnya.

Persoalan ini sebenarnya sudah mendapat sorotan. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, pernah menyebutkan bahwa produksi cangkang kerang di Kalibaru bisa mencapai 1,5 hingga 2 ton per hari. Angka yang fantastis.

Sementara itu, kapasitas pengelolaan para petani kerang hanya sekitar 50 sampai 100 kilogram sehari. Jelas tidak seimbang.

"Di Kalibaru saja produksi kulit kerangnya mencapai 1,5 sampai 2 ton per hari. Jadi kondisi yang kita lihat itu otomatis sudah melakukan pencemaran lingkungan yang relatif besar, sehingga kondisi pantainya pasti menimbulkan problem yang tidak ringan," kata Hanif saat berkunjung ke lokasi pada Juli 2025 lalu.

Di sisi lain, Kementeriannya dikatakan sedang berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta untuk mencari jalan keluar.

"Kami akan segera merumuskannya dahulu dengan teman-teman Daerah Khusus Jakarta yang bertempat di lokasi ini, dengan para penanggung jawab kawasan, semisal pelindung atau mungkin teman-teman dari PUPR untuk mengambil langkah-langkah penanganan pencemaran ini," jelasnya.

"Jadi tentu mereka-mereka (pengupas) juga harus bertanggung jawab terkait dengan peran ini. Ini tidak sederhana iya, tetapi dengan kehadiran kita di sini, segera kita akan merumuskan instrumen yang harus kita bangun bersama untuk Kalibaru," pungkas Hanif.

Nada janji itu masih menggantung. Sementara di pesisir, gunungan cangkang terus bertambah, dan aroma amisnya tetap menyengat di udara lembap Jakarta Utara.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar