Mahfud membandingkan kondisi sekarang dengan zaman dulu. Dulu, orientasinya lebih pada peran sosial-keagamaan. Sekarang? Ia menilai mulai menjauh dari fondasi nilai-nilai itu.
Ucapnya. Keterlibatan dalam urusan ekonomi dan proyek bisnis, dalam pandangannya, jelas memicu ketegangan. Bahkan mengubah karakter organisasi dan melemahkan warisan nilai dari para ulama pendiri.
Kritiknya tak berhenti di situ. Sindirannya bahkan lebih tajam.
Sindiran "PTNU" yang Mengena
Mahfud punya gambaran yang cukup sinis tentang arah gerak institusi ini. Ia menyebutnya mirip sebuah perusahaan, lengkap dengan struktur manajemen dan pemegang saham.
Pungkasnya. Intinya, konflik yang terjadi saat ini lebih banyak berkisar pada perebutan akses dan kepentingan ekonomi. Bukan lagi soal ideologi atau prinsip-prinsip organisasi yang mulia.
Pandangannya ini tentu saja menyisakan pertanyaan besar. Ke mana sebenarnya arah organisasi besar ini akan melangkah?
Artikel Terkait
Sampah Roti Ternama Berakhir di Pinggir Jalan Gelap Gianyar
Istana Tahan Keputusan, Thomas Djiwandono Tetap di Wamenkeu untuk Sementara
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Tahuna, Pusatnya Hanya 10 Kilometer
Ketua Komisi III Geram: Korban Penjambret Dijerat Hukum, Keluarga Pelaku Malah Minta Uang Kerahiman