Di Balik Kabut Pidie Jaya: Jembatan Putus, BTS Mati, dan Perjuangan Pulihkan Komunikasi Pasca-Bencana

- Jumat, 05 Desember 2025 | 04:48 WIB
Di Balik Kabut Pidie Jaya: Jembatan Putus, BTS Mati, dan Perjuangan Pulihkan Komunikasi Pasca-Bencana

Kabut masih menggantung di udara ketika Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, tiba di Meunasah Lhok, Pidie Jaya, Kamis lalu. Wilayah ini termasuk yang paling parah dilanda bencana. Yang langsung terlihat adalah kondisi sungainya. Aliran air sudah tak karuan, masuk ke kampung-kampung karena dasar sungai dangkal sekali.

Lumpur mengendap di mana-mana, cekungannya tertutup hingga rata. Akibatnya, air meluber begitu saja ke permukiman warga.

“Sungai-sungai baru tercipta, dan banjir memenuhi jalan depan rumah penduduk,” ujar Nezar, menceritakan apa yang disaksikannya pada 4 Desember 2025 itu.

Rumah-rumah warga tak luput. Banyak yang tertimbun material lumpur, tingginya bisa mencapai satu setengah meter. Menurut Nezar, pemulihan sungai butuh upaya serius. Bekas endapan lumpur yang memanjang sekitar satu kilometer itu harus digali agar aliran kembali normal. Baru setelah itu, program rekonstruksi kawasan bisa benar-benar dikerjakan.

“Saya lihat sendiri, banyak warga, laki-laki dan perempuan, kerja keras membersihkan rumahnya. Mereka pakai sekop, menggali lumpur pasir yang sudah mengeras. Bahkan ada yang setinggi pintu,” jelasnya.

Dari Pidie Jaya, perjalanan dilanjutkan ke Bireuen. Tujuannya, memeriksa dan memulihkan jaringan telekomunikasi yang terputus.

“BTS di Aceh umumnya terganggu karena listrik padam. Sekarang separuhnya sudah bisa menyala. Kita koordinasi dengan PLN dan Pertamina, mudah-mudahan dalam pekan ini 75 sampai 90 persen BTS beroperasi kembali,” ungkapnya.

Sebelum berangkat, Nezar sempat menyerahkan bantuan satu unit Starlink dan genset kepada Bupati Pidie Jaya. Alat itu untuk mendukung komunikasi di pos-pos bantuan.

Di Bireuen, rapat singkat digelar di Posko Bencana Kantor Bupati. Nezar kembali menyerahkan bantuan serupa: satu unit Starlink dan genset untuk daerah itu. Tak hanya itu, dua unit Starlink dan satu genset juga diberikan kepada Dandim Bireuen, untuk diteruskan ke Danrem Lilawangsa di Lhokseumawe.

“Kita titipkan ke Danrem, nantinya akan membantu komunikasi di daerah Lokop, Aceh Timur. Di sana, lima desa hilang disapu banjir. Alat telekomunikasi sangat dibutuhkan,” kata Nezar.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kecamatan Juli. Di sana, sebuah pemandangan mengejutkan terlihat. Sebuah jembatan yang tampak kokoh ternyata terputus separuh. Keadaan ini membuat Bener Meriah terisolasi.

“Kita berikan satu unit Starlink kepada relawan TIK untuk kebutuhan komunikasi warga,” ujarnya.

Di ujung jembatan yang putus itu, warga ternyata sudah membangun solusi darurat: sebuah jaringan kabel untuk mengangkut barang. Melihat itu, tim Nezar punya ide.

“Kita seberangkan satu unit Starlink dan genset ke wilayah Bener Meriah lewat keranjang yang digantung di kabel itu. Semoga bisa membantu pemulihan komunikasi di masa darurat,” tambah Nezar.

Secara keseluruhan, dari 3.443 BTS di Aceh, lebih dari separuh tepatnya 51% sudah berfungsi lagi. Penyebab matinya BTS kebanyakan karena listrik, bukan kerusakan fisik. Sebagian besar menara masih tegak, kecuali beberapa yang langsung kena terjangan banjir. Yang lain selamat karena posisinya di tempat tinggi.

Namun begitu, gangguan komunikasi juga dipicu oleh putusnya beberapa jaringan fiber optik. Ini terjadi seiring ambruknya jembatan-jembatan penghubung antarkabupaten di Aceh.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar