Harapannya sederhana: warga yang terdampak bisa cepat pulih dan mendapat bantuan. “Semoga semua yang kena bencana, yang barang-barangnya rusak, bisa tergantikan lagi. Terus sehat lah yang pertama,” ungkapnya.
Di sisi lain, cerita Rahmawati, warga lainnya, menggambarkan kepanikan yang lebih mendalam. Air datang begitu cepat, tanpa ampun.
Bagi Rahmawati, ini adalah banjir tertinggi dalam dua tahun terakhir. Ketinggian air di sekitar rumahnya mencapai sekitar satu meter. “Saya langsung keluar. Airnya deras sekali. Kami takut kalau nanti makin naik,” ujarnya.
Hingga malam tiba, air belum juga menunjukkan tanda-tanda surut dengan signifikan. Lumpur tebal masih menyelimuti lantai rumah-rumah warga, meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan.
Dari kedua cerita itu, satu harapan yang sama mengemuka. Warga berharap ada penanganan permanen dari pemerintah untuk sungai itu. Agar luapan air yang merusak dan mengusir rasa tenang ini tidak terulang lagi di masa datang.
Artikel Terkait
Pembicaraan Rahasia Trump dan Al-Sharaa: Nasib Kurdi Jadi Taruhan
Kecelakaan Maut di Andalusia: 40 Tewas dan Dugaan Kerusakan Rel di Balik Tragedi Kereta Cepat
Ibadah Minggu Berakhir Tragis: 163 Jemaat Diculik Bandit di Kaduna
Detak Hati di Lereng Bulusaraung: Saat Tim SAR Menemukan Korban Kedua di Dahan Pohon