Kisah Malam Nahas Dosen Semarang: Polisi di TKP Tidur Saat Korban Tersengal

- Kamis, 04 Desember 2025 | 14:50 WIB
Kisah Malam Nahas Dosen Semarang: Polisi di TKP Tidur Saat Korban Tersengal

Hingga saat ini, penyebab kematian seorang dosen di Semarang masih gelap. Perempuan berusia 35 tahun itu ditemukan meninggal tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, di sebuah kostel daerah Gajahmungkur, Senin (17/11/2025) lalu. Ia berinisial DLL, mengajar di Universitas 17 Agustus 2025 Semarang. Yang jadi sorotan, polisi berpangkat AKBP Basuki yang disebut-sebut memiliki hubungan asmara dengan korban ternyata ada di tempat kejadian saat itu.

Nah, dalam sidang Komisi Kode Etik Polri Polda Jawa Tengah Rabu (3/11/2025), Basuki mencoba merunut kejadian malam nahas itu. Pengakuannya, menurut kuasa hukum keluarga korban, justru memunculkan lebih banyak tanda tanya.

Zainal Abidin Petir, kuasa hukum keluarga, hadir dalam sidang dan mengungkapkan fakta baru yang cukup mencengangkan.

"Ada fakta baru lagi. AKBP Basuki sekira pukul 00.00 pada 17 November 2025 sudah melihat dosen Levi cengap-cengap, tersengal-sengal nafasnya."
"Namun menurut pengakuan AKBP Basuki, karena terlalu kecapean, akhirnya tertidur. Nah ketika bangun pukul 04.00, kok sudah meninggal,"

Begitu penuturan Zainal Petir seusai persidangan. Bayangkan, seseorang di sampingmu kesulitan bernapas, dan kamu memilih untuk tidur? Itu yang membuat sidang etik ini terasa makin berat.

Lalu soal kondisi korban yang tak berbusana. Majelis etik tentu saja menanyakan hal ini. Jawaban Basuki? Dia mengaku tidak tahu-menahu. Katanya, saat mereka mau tidur, korban masih memakai kaus dan celana training. Entah bagaimana ceritanya, saat dia bangun empat jam kemudian, semuanya sudah berubah.

Di sisi lain, reaksi Basuki setelah menemukan sang dosen telah meninggal juga dipertanyakan. Dia mengaku panik, kalut, bingung. Alhasil, dia tidak segera menghubungi dokter atau polisi. Padahal, sebagai perwira menengah dengan jabatan pengendalian massa (Dalmas), seharusnya dia terlatih menghadapi situasi kritis dan menjaga emosi.

Hakim sidang pun menyoroti hal ini. Tapi Basuki berdalih, dia kelelahan karena dua hari tidak tidur sambil mengurusi korban yang beberapa kali mengeluh kesakitan sebelum akhirnya meninggal.

Keterlambatan melapor ke polisi juga jadi bahan pemeriksaan. Basuki mengakui, alih-alih langsung membawa jenazah atau melapor, dia lebih dulu minta tolong temannya untuk mengantarnya ke Polrestabes Semarang. Logikanya, dia ingin melaporkan diri dulu. “Bukan segera mengantar jenazah, tapi bagaimana saya harus laporan, istilahnya seperti itu,” terang Zainal Petir menyampaikan alasan kliennya.

Semua pengakuan itu kini jadi bahan pertimbangan majelis etik. Satu nyawa melayang dalam keadaan yang belum jelas, sementara saksi kunci yang juga seorang aparat memberikan penjelasan yang masih menyisakan banyak lubang. Masyarakat pun menunggu, apakah sidang ini akan mampu mengungkap tabir gelap di balik kematian dosen Semarang itu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler