Gus Kautsar Soroti Banjir Sumatera: Ini Bukan Bencana Alam, Tapi Undangan Malapetaka

- Kamis, 04 Desember 2025 | 12:50 WIB
Gus Kautsar Soroti Banjir Sumatera: Ini Bukan Bencana Alam, Tapi Undangan Malapetaka

Banjir besar yang menerjang Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, menelan ratusan korban jiwa. Bencana ini menyisakan duka dan tanya. Bagi KH. Abdurrahman Al Kautsar, atau yang akrab disapa Gus Kautsar, jawabannya jelas: ini bukan sekadar fenomena alam belaka.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri itu menuding praktik pembalakan liar dan eksploitasi sumber daya alam sebagai pemicu utamanya. Menurutnya, kerakusan manusia-lah yang mengundang malapetaka.

"Banyaknya pembalakan liar, pengerukan tambang ilegal, dan pemotongan pohon tanpa aturan membuat saudara-saudara kita menerima dampaknya," tegas Gus Kautsar.

Ucapannya itu disampaikan dalam pengajian rutin Teras Gubuk, Kamis lalu. Hutan-hutan, katanya, dihabisi tanpa memikirkan keamanan lingkungan sama sekali.

Di sisi lain, Gus Kautsar menegaskan bahwa tindakan semacam itu jelas melanggar prinsip dasar Islam. Seorang Muslim seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan justru menyebar kerusakan. Semua kehancuran yang kita saksikan, baik di darat maupun laut, adalah buah dari perbuatan kita sendiri.

"Dampaknya dirasakan supaya kita sadar bahwa apa yang dilakukan benar-benar luar biasa merusak," ujarnya.

Ia kemudian menyoroti akar masalahnya: kerakusan. Mengutip Sayyidina Ali, sifat rakus disebutnya sebagai sumber segala keburukan, bahkan akhlak dasar iblis.

"Siapapun yang merasa nyaman mengambil hak orang lain, merusak hutan, atau menguasai yang bukan miliknya, berarti ia sedang meniru watak iblis," kata Gus Kautsar.

Ironisnya, ketidakadilan itu terasa begitu nyata. Para pelaku yang terbukti zalim mungkin sedang asyik duduk ngopi dengan tenang, sementara masyarakat kecil yang tak bersalah justru menjadi korban, kehilangan harta benda bahkan nyawa.

Lalu, apa solusinya? Gus Kautsar mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan apa yang ia sebut 'taubat ekologis'. Ini adalah sikap moral kolektif untuk menghentikan kerusakan dan memperbaiki hubungan kita dengan alam.

Pemerintah, dalam hal ini, harus mengambil langkah tegas. Salah satu wujud nyatanya adalah reboisasi besar-besaran. Penghijauan harus jadi prioritas utama setelah kerusakan masif yang terjadi.

"Moga-moga pemerintah benar-benar segera melakukan penghijauan kembali. Reboisasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh," harapnya.

Di akhir pernyataannya, Gus Kautsar menyampaikan doa mendalam untuk para korban di Aceh, Padang, Sibolga, dan wilayah Sumatera lainnya. Ia berharap yang hilang segera ditemukan, yang wafat mendapat ampunan, dan bencana seperti ini menjadi yang terakhir.

"Indonesia ini bangsa yang super istimewa, penuh anugerah Allah. Kita wajib menjaganya sebagai bentuk syukur," tutupnya penuh harap.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar