Gembong Narkoba 2 Ton dari Ponorogo Diringkus di Hotel Mewah Kamboja

- Kamis, 04 Desember 2025 | 11:12 WIB
Gembong Narkoba 2 Ton dari Ponorogo Diringkus di Hotel Mewah Kamboja

Operasi senyap aparat gabungan Indonesia dan Kamboja akhirnya membuahkan hasil. Di sebuah hotel di Sihanoukville, seorang wanita berhasil diamankan pada Senin, 1 Desember lalu. Dia tak lain adalah Paryatin, otak diduga penyelundupan narkoba skala besar hingga 2 ton ke Indonesia.

Wanita asal Ponorogo ini punya banyak nama. Dewi Astutik, Kak Jidan, Dinda, atau bahkan panggilan "Mami". Saat ditangkap, dia tak sendirian. Kekasihnya, seorang pria bernama Abdul Halim, juga ada di tempat itu.

Menurut Kolonel Chem Vannareth, Wakil Kepala Departemen Polisi Intelijen Kamboja, operasi ini tak lepas dari Red Notice Interpol yang terbit Maret 2025. Surat perintah itu menyebut Astutik sebagai buronan untuk kasus narkoba dan perdagangan manusia. "Berdasarkan informasi dari polisi Indonesia, kami menangkapnya pukul 13.34 tanggal 1 Desember di Hotel Novotel, Sihanoukville," jelas Vannareth, seperti dilaporkan media setempat.

Dia menambahkan, laporan Interpol menyebut tersangka diduga melakukan kejahatan itu di Indonesia pada 2024. Posisinya kemudian terlacak hingga ke Kamboja.

Mobil Prius dan Nasib Sang Kekasih

Video penangkapan yang beredar memperlihatkan momen itu. Astutik, dengan kaus putih dan celana jeans biru, hendak masuk ke mobil Toyota Prius warna putih. Dia ditangkap tanpa perlawanan. Rupanya, pria yang bersamanya adalah pacarnya, Abdul Halim, warga negara Pakistan.

Setelah proses interogasi dan dokumentasi, Astutik langsung diserahkan ke Indonesia. Dia diekstradisi keesokan harinya, Selasa 2 Desember.

Lalu bagaimana dengan Halim? Nasibnya berbeda. Vannareth menyatakan pria itu masih ditahan di Provinsi Preah Sihanouk untuk penyelidikan lebih mendalam. Dia jadi bahan interogasi aparat Kamboja.

Pernyataan Sang Kepala BNN

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto memberikan penjelasan pada Rabu (3/12). Menurutnya, identitas pria Pakistan itu masih diselidiki oleh pihak Kamboja. Info sementara, dia adalah Abdul Halim.

"Diduga sebagai pacar Paryatin alias Dewi Astutik," ujar Suyudi.

Keterkaitan Halim dengan jaringan narkoba Astutik sendiri masih gelap. Yang jelas, hubungan mereka erat. Pakistan bukan wilayah asing bagi Astutik. Dia disebut juga beroperasi di kawasan Golden Crescent meliputi Afghanistan, Pakistan, dan Iran selain tentu saja segitiga emas Asia Tenggara.

Ketika dikonfirmasi lagi pada Kamis (4/12), Suyudi menegaskan soal penanganan Halim. "Ditangani di sana [Kamboja]," katanya singkat.

Paryatin, wanita berusia awal 40-an ini, ternyata punya trik licik. Dia menggunakan nama adik kandungnya sendiri untuk mengelabui aparat. Sebelum jadi gembong narkoba di Kamboja, hidupnya berawal dari menjadi tenaga migran. Taiwan dan Hong Kong pernah menjadi tempatnya bekerja.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar