Bupati Aceh Utara Menangis di Depan Media: Kami Sudah Tak Sanggup Lagi

- Kamis, 04 Desember 2025 | 10:25 WIB
Bupati Aceh Utara Menangis di Depan Media: Kami Sudah Tak Sanggup Lagi

Suasana di posko penanggulangan banjir itu berat. Rabu lalu, Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, tak kuasa menahan tangis di depan awak media. Air matanya mengalir, mengungkap kepedihan yang dalam. Banjir yang melanda wilayahnya ternyata jauh lebih dahsyat dari perkiraan, dan dia mengakui dengan jujur: pemerintah daerah sudah tak sanggup lagi menanganinya.

“Tidak sanggup, korbannya luar biasa,” ujarnya, suaranya tercekat.

Dia bercerita, dirinya sendiri sempat terperangkap dalam banjir selama hampir dua malam. Pengalaman itu, rupanya, hanya secuil dari penderitaan yang dialami warganya. “Banyak masyarakat kita kelaparan. Kekuatan kita tidak ada, kita hanya ada beras,” tambahnya sambil menyeka air mata. Ungkapan putus asanya itu terekam dalam sebuah video yang kemudian viral.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, situasinya memang memprihatinkan. Ismail menegaskan bahwa pihaknya sudah berupaya maksimal. Namun begitu, bencana ini skalanya terlalu besar. Kapasitas daerah terbatas. Mereka sudah mengirim surat resmi ke Presiden, meminta percepatan bantuan. Yang dibutuhkan mendesak: logistik dalam jumlah besar, peralatan evakuasi, dan tenaga tambahan.

Yang lebih mencemaskan adalah kabar dari Kecamatan Langkahan. Bupati mengungkapkan, masih banyak jenazah yang belum berhasil dievakuasi. Medan yang rusak parah menyulitkan proses pencarian. Laporan-laporan dari warga, yang masuk lewat pesan suara, menyebut angka korban terus bertambah.

“Kabupaten Aceh Utara memiliki 27 kecamatan, cuma 2 kecamatan yang tidak kena habis,” katanya dengan nada pilu. “Tapi sampai hari ini mayat-mayat belum habis ditemukan.”

Di sisi lain, kondisi di tempat pengungsian kian memanas. Ribuan orang bertahan dengan persediaan yang menipis. Makanan, obat-obatan, hingga selimut semuanya kurang. Banjir di Aceh Utara jelas sudah masuk fase kritis. Desakan agar pemerintah pusat segera turun tangan kini terdengar semakin keras. Waktu terus berjalan, dan ancaman penderitaan yang lebih panjang masih mengintai.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar