Bupati Aceh Timur: Bantuan untuk Korban Banjir Masih Jauh dari Cukup

- Rabu, 03 Desember 2025 | 17:06 WIB
Bupati Aceh Timur: Bantuan untuk Korban Banjir Masih Jauh dari Cukup

Hujan masih mengguyur hebat Selasa lalu (2/12) ketika Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyuarakan kegelisahannya. Isinya jelas: bantuan untuk warganya yang terdampak banjir dan longsor masih jauh dari kata cukup. Menurutnya, uluran tangan dari pemerintah pusat dan provinsi belum benar-benar terasa di lapangan.

"Masih ada rakyat Indonesia di Aceh Timur belum tersentuh bantuan dari pusat. Kita masih menunggu," ujar Iskandar dalam sebuah video pernyataan yang diterima media, Rabu (3/12).

Suaranya tegas. Ia menegaskan, yang dibutuhkan saat ini adalah aksi nyata, bukan sekadar retorika atau surat keputusan yang berhenti di atas kertas. Situasi darurat menuntut kerja konkret di lapangan.

"Yang dibutuhkan adalah sekarang pertempuran di lapangan, orang-orang lapangan yang bisa mengendalikan keadaan pasca-banjir," tegasnya.

Kondisinya memang memprihatinkan. Banyak warga, katanya, kesulitan mencari makan hingga dua hari dua malam pasca banjir bandang yang melanda sejak Jumat (28/11). Isolasi menjadi masalah besar. Akses darat utama dari Banda Aceh terputus karena jembatan di Peudada, Bireuen, rusak. Rute dari Medan pun tak bisa dilalui, terblokir di Aceh Tamiang.

Lalu, bagaimana bantuan masuk?

Satu-satunya harapan sempat tertumpu pada jalur laut. Namun, itu pun tak mudah. Bantuan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Sosial dan swasta, harus dipasok melalui Belawan dengan menggunakan kapal perang. Jadwalnya bergantung pada kesiapan TNI AL dan tentu saja, cuaca yang tak menentu.

"Hari ini kita baru bisa daratkan bantuan dari salah satu kapal perang yang kami daratkan di laut. Dan barangnya kita jemput menggunakan boat nelayan," jelas Iskandar.

Alasannya sederhana tapi menyiratkan kesulitan: Aceh Timur tidak memiliki pelabuhan yang bisa disandari kapal perang.

Di sisi lain, situasi di beberapa wilayah masih sangat suram. Tiga kecamatan dan sejumlah desa masih terisolasi. Di Desa Sahraja dan Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, ada lima titik pengungsian. Tiga titik berhasil diakses, salah satunya di SMPN 1 Sijudo.

Namun, dua titik lainnya masih gelap. Ratusan warga dilaporkan tak bisa dikontak sama sekali.

"Posisinya kita tidak bisa lacak. Sebab akses kedua titik ini dipenuhi lumpur setinggi leher orang dewasa, panjang lumpurnya sejauh 8 km," kata Iskandar menggambarkan situasi yang hampir mustahil.

Akses darat? Tidak mungkin. Lewat hutan? Tidak bisa. Melalui sungai? Jalan itu pun tertutup. Sebuah gambaran yang jelas tentang betapa beratnya medan yang harus dihadapi tim penyelamat dan relawan di sana.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar