Suasana di Monas, Selasa siang itu, kembali ramai oleh lautan massa. Di atas panggung, Habib Rizieq Syihab menyampaikan pidato yang keras. Intinya satu: negeri ini, menurutnya, sedang berada dalam kondisi darurat akhlak. Untuk melawan itu, ia menyerukan sebuah revolusi.
"Tema Reuni 212 tahun ini adalah revolusi akhlak," serunya, suara terdengar lantang di tengah kerumunan.
"Ayo kita selamatkan NKRI dari penjahat dan terus berjuang memerdekakan Palestina dari penjajah."
Pria yang kerap disapa Habib itu lalu menyoroti berbagai persoalan yang ia lihat menjangkiti bangsa. Katanya, kemungkaran dan kemaksiatan sudah merajalela. Tapi yang paling ia tekankan adalah soal korupsi dan kekuatan-kekuatan gelap yang menggerogoti negara.
"Lihat, saudara," ujarnya, "maraknya para penjahat yang menggerogoti kekayaan negeri kita, maraknya korupsi, banyaknya mafia, merajalelanya oligarki-oligarki busuk."
Menghadapi kelompok seperti itu, kata Rizieq, bukan perkara mudah. Mereka punya segalanya: uang, pengaruh, kekuatan politik. Karena itulah, ia menekankan bahwa persatuan umat harus terus diperkuat. Tanpa itu, sulit untuk melawan.
"Yang kita lawan ini adalah kelompok mafia, kelompok oligarki busuk, kelompok koruptor," imbuhnya. "Mereka punya kekuatan politik, kekuatan ekonomi. Bukan lawan sembarangan."
Seruan Bantu Korban Bencana
Di sisi lain, pidatonya juga menyentuh isu kemanusiaan yang lebih aktual. Rizieq menyoroti bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ia merasa pemerintah lamban merespons.
"Saya sesalkan kalau sampai hari ini pemerintah belum mau menyatakan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional," bebernya dengan nada kecewa.
Tak hanya kritik, ia pun mengajak ribuan pendukung yang hadir untuk turun tangan. Ia meminta mereka membuka kantong bantuan. Menurut pengakuannya, jaringan organisasinya sudah bergerak lebih dulu.
"Seluruh cabang FPI yang ada di Aceh maupun Sumatera Utara, begitu juga Sumatera Barat, sejak hari pertama terjadi gempa, semua sudah membuka posko-posko dan dapur-dapur umum," tandasnya, menegaskan peran yang telah dilakukan.
Pidato itu pun berakhir dengan seruan yang menggabungkan semangat moral, politik, dan solidaritas, mencerminkan narasi yang ia usung selama ini.
Artikel Terkait
Geng Motor Bersenjata Samurai Teror Warung di Maros Dini Hari
Hari Kartini Diperingati, Semangat Emansipasi Perempuan Tetap Berkobar
Bone Berpeluang Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Catur Tingkat Sulsel
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Hari Kartini Lewat Unggahan Instagram