Mogok di Stasiun Srowot, Commuter Line Yogyakarta-Palur Tertahan Hampir Dua Jam

- Selasa, 02 Desember 2025 | 23:00 WIB
Mogok di Stasiun Srowot, Commuter Line Yogyakarta-Palur Tertahan Hampir Dua Jam

Malam Selasa (2/12) di Stasiun Srowot, Klaten, suasana tak biasa. Kereta Commuter Line relasi Yogyakarta-Palur terpaksa berhenti. Informasi soal kereta yang mogok itu ramai beredar di media sosial, disertai foto dan keluhan penumpang.

KAI Commuter Wilayah 6 Yogyakarta akhirnya membenarkan adanya gangguan. Mereka pun menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan yang terjadi.

“Keterlambatan ini terjadi sebagai imbas adanya kendala operasional pada rangkaian Commuter Line No. 727 relasi Palur-Yogyakarta di Stasiun Srowot,”

kata Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, menjelaskan situasinya.

Menurut penjelasannya, semua bermula sekitar pukul tujuh malam. Saat itu, masinis melaporkan adanya masalah teknis pada rangkaian kereta yang sedang berada di jalur 1.

“Seluruh pengguna dialihkan pada rangkaian cadangan yang telah disediakan oleh KAI Commuter,”

tambah Leza. Upaya penyelamatan itu pun segera dilakukan.

Namun begitu, prosesnya butuh waktu. Rangkaian cadangan baru bisa melanjutkan perjalanan sekitar pukul 20.56 WIB. Artinya, ada penundaan yang cukup signifikan.

“Mengalami keterlambatan sekitar 116 menit,”

ujarnya merinci.

Gangguan di satu titik ini otomatis berdampak ke lalu lintas kereta lain. Pihak operator terpaksa melakukan rekayasa pola operasi untuk kereta-kereta yang hendak melintas Stasiun Srowot.

“Perjalanan kereta api lainnya dialihkan melalui jalur 3 saat akan melintas di Stasiun Srowot,”

jelas Leza lebih lanjut.

Sementara penumpang sudah dievakuasi, perbaikan teknis masih berlangsung. Petugas Sarana dari KAI Commuter dikerahkan untuk menangani rangkaian yang bermasalah itu.

“Kami berkomitmen untuk terus berupaya maksimal agar perjalanan kembali normal,”

pungkas Leza Arlan menutup pernyataannya. Malam di Stasiun Srowot perlahan kembali beraktivitas, meski jejak gangguan masih tersisa.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar