Bentrokan dan Panah Warnai Sengketa Lahan di Trans Flores

- Selasa, 02 Desember 2025 | 10:05 WIB
Bentrokan dan Panah Warnai Sengketa Lahan di Trans Flores

Di Kabupaten Sikka, NTT, suasana tegang kembali menyelimuti kawasan eks HGU Nangahale. Kali ini, bentrokan fisik tak terhindarkan antara warga adat setempat dan karyawan PT Krisrama. Perusahaan itu berupaya membersihkan lahan, namun langsung dihadang oleh masyarakat yang menolak. Aksi saling serang pun pecah, lengkap dengan lemparan batu dan bahkan panah. Akibatnya, jalan nasional Trans Flores macet total berjam-jam, memutus arus lalu lintas di pulau Flores.

Menurut sejumlah saksi, semua berawal dari kedatangan sepuluh traktor milik perusahaan. Warga yang mengetahui rencana pembersihan itu langsung bergerak. Mereka menutup akses dan memblokade badan jalan Trans Flores, jalur utama penghubung itu. Situasi yang sudah panas itu kemudian meledak.

Pemicunya adalah ketika para karyawan mulai menebang pohon-pohon pisang dan jambu mete di area sengketa. Melihat hal itu, kemarahan warga adat pun meluap. Bentrokan fisik pun terjadi. Suara teriakan dan hiruk-pikuk memenuhi udara, sementara batu beterbangan dari kedua belah pihak.

Seorang sopir truk bernama SB Nong terjebak dalam kemacetan panjang itu. Sudah lebih dari dua jam dia tertahan. Padahal, muatan truknya adalah bantuan untuk korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang sangat mendesak.

"Tolong buka jalan biar saya antar dulu barang orang lagi butuh ini," ujar Nong dengan suara terdengar kesal.

Dia berharap aparat bisa segera meredakan situasi. Antrean kendaraan semakin panjang, sementara ketegangan di lokasi belum juga reda. Aparat keamanan yang berjaga dilaporkan kewalahan menahan emosi kedua kubu yang saling berhadapan.

Korban pun berjatuhan. Beberapa karyawan PT Krisrama mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan serangan panah. Mereka kini harus menjalani perawatan di rumah sakit. Di sisi lain, warga adat tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

Meski mendapat perlawanan sengit, pihak perusahaan tampaknya belum mau mundur. PT Krisrama menegaskan akan melanjutkan rencana pembersihan lahan tersebut. Klaim mereka berbenturan dengan klaim warga adat yang menganggap tanah eks HGU itu sebagai wilayah ulayat mereka.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di Talibura masih mencekam. Warga adat terus berjaga, bersiaga di lahan yang mereka perjuangkan. Nyawa seakan bukan lagi halangan. Sementara itu, blokade di jalan Trans Flores belum sepenuhnya dibuka, membuat ruas jalan vital itu tetap sulit dilalui.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar