Lantas, bagaimana mencapainya? Tentu bukan cuma lewat slogan atau peringatan Hari Perempuan yang seremonial. Diperlukan perubahan perspektif yang mendasar. Stereotip harus dibongkar, dan kita semua perlu paham bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Selama bias-bias ini masih hidup dan dipelihara dalam masyarakat, kesetaraan gender akan tetap jadi impian yang jauh dari kenyataan.
Sebagai mahasiswa, saya sering menyaksikan bias ini muncul di lingkungan yang katanya egaliter sekalipun. Pernah dalam kerja kelompok, pendapat saya diabaikan dengan alasan saya "terlalu emosional".
Yang lucu, ketika rekan laki-laki saya menyampaikan kritik serupa, dia justru dipuji karena dianggap kritis.
Pengalaman itu mengajarkan saya sesuatu. Perjuangan untuk kesetaraan tidak selalu butuh peraturan besar atau kampanye megah. Kadang, ia dimulai dari keberanian kecil untuk menantang stereotip dalam keseharian. Menyanggah dengan tegas, tapi tetap tenang dan menghargai.
Ini bukan soal menang atau kalah. Bukan pula perlombaan antara laki-laki dan perempuan. Intinya sederhana: memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang, tanpa dibatasi label gender. Perbedaan pengalaman kita seharusnya jadi alasan untuk saling memahami, bukan untuk saling menjatuhkan.
Pertanyaannya, mau dibawa ke mana? Apakah perbedaan ini akan kita jadikan tembok pembatas, atau justru jembatan untuk saling mengenal? Kalau menurut saya, selama kita masih membiarkan stereotip mengotori cara pandang kita, mustahil bisa membangun masyarakat yang lebih baik.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Surabaya Hari Ini, 3 Maret 2026
Persebaya dan Persib Bermain Imbang 2-2 dalam Laga Sengit di Surabaya
Jadwal Imsak dan Shalat di Medan Hari Ini, 3 Maret 2026
PSM Makassar Tumbang 2-4 dari Persita, Suporter Turun Lapangan Protes