Kobaran Maut di Wang Fuk Court, Alarm Mati dan 128 Jiwa Melayang

- Senin, 01 Desember 2025 | 04:42 WIB
Kobaran Maut di Wang Fuk Court, Alarm Mati dan 128 Jiwa Melayang

Meski begitu, pendataan untuk memastikan kondisi seluruh WNI di apartemen tersebut terus dilakukan. Yul menegaskan dirinya dan tim masih berada di lokasi kebakaran hingga saat ini.

Ia juga menyampaikan perkembangan terbaru dari otoritas Hong Kong: puluhan penghuni apartemen masih belum diketahui keberadaannya.

“Perkembangan pagi ini saya lihat, kalau sampai pagi kemarin 279 tidak bisa dihubungi, tadi sudah di bawah 30,” ujarnya.

Sebelumnya, Kemlu RI telah menyatakan dua WNI tewas dalam insiden ini. Dua lainnya terluka. Satu orang sudah keluar dari rumah sakit, sementara yang lain masih harus menjalani perawatan. Semua korban WNI berstatus pekerja migran di sektor domestik.

Di sisi lain, polisi Hong Kong telah menangkap dua direktur perusahaan konstruksi dan konsultan teknik. Mereka diduga lalai dan bertanggung jawab atas kebakaran ini. Saat kebakaran terjadi, kompleks apartemen sedang menjalani renovasi. Perancah bambu dan material mudah terbakar diduga menjadi biang keladi api bisa menjalar dengan begitu cepat dan luas.

Kini, Hong Kong memasuki masa berkabung. Dimulai pada Sabtu (29/11), warga memberikan penghormatan terakhir kepada 128 korban tewas. Tujuh di antaranya adalah WNI.

Banyak warga membawa bunga, meletakkannya di lokasi tragedi memilukan ini. Masa berkabung direncanakan berlangsung selama tiga hari.

Orang-orang dari seluruh penjuru kota berbondong-bondong menuju sebuah taman kecil dekat apartemen yang hangus. Mereka membawa bunga putih dan kuning, meninggalkan pesan tulisan tangan sebagai bentuk kenangan abadi.

Antrean pelayat terus memanjang. Saat malam tiba, area tersebut telah dipenuhi orang-orang dengan wajah muram, hampir semua mengenakan pakaian berwarna gelap.

Seorang wanita berusia 69 tahun, bermarga Wong, yang telah tinggal di kawasan itu lebih dari empat dekade, duduk terpaku. Dengan suara lirih, ia menyebut satu per satu nama tetangga dan teman yang telah meninggal.

“Itu seorang nenek dengan bayi berusia 18 bulan. Saya sangat dekat dengan mereka,” kata Wong. Ia menambahkan, banyak pemilik rumah lansia memiliki hubungan yang sangat erat di sana.

“Kemarin baru dipastikan mereka meninggal,” sambungnya, dengan tatapan kosong menerawang.


Halaman:

Komentar