Deru kereta api kembali memecah kesunyian siang di Stasiun Bandan, Jakarta Utara. Rombongan penumpang berhamburan turun, lalu menyebar masuk ke dalam gang-gang sempit yang mengelilingi stasiun. Suasana yang ramai dan hiruk-pikuk ini adalah pemandangan sehari-hari.
Rohanah (53) terkejut bangun dari tidur singkatnya di kursi. Dia sedang menjaga toko kelontong kecilnya. Dengan mata yang masih berat, dia buru-buru melayani para penumpang yang mampir membeli minuman atau sekadar makanan ringan untuk mengganjal perut.
"Alhamdulillah, ada yang beli," ucapnya lega, suatu Minggu pagi.
Perempuan berusia 53 tahun itu mengaku sudah tinggal di Kampung Bandan sejak lahir. Rumahnya, yang tidak terlalu besar, adalah warisan paling berharga dari orang tuanya. Di sanalah dia berteduh, beristirahat, dan membesarkan kedua anaknya. Ikatan batinnya dengan tempat itu sangat dalam.
"Orang lama saya di sini, dari lahir," katanya singkat, penuh keyakinan.
Lalu bagaimana dengan kebisingan kereta? Bagi Rohanah, itu sudah jadi bagian dari hidupnya. Dia sama sekali tidak merasa terganggu. Malah, sebaliknya. Keberadaan stasiun justru membawa rezeki. Keramaian itu berarti pembeli.
"Enggak, udah biasa. Orang pada naik kereta, rame sih kalau pagi sampai sore pada pulang dari stasiun," ujarnya sambil mengatur barang dagangannya.
Namun begitu, ada satu kegelisahan yang terus menggerogoti hatinya. Meski puluhan tahun menetap, status kepemilikan tanahnya tak jelas. Orang tuanya tidak meninggalkan Sertifikat Hak Milik (SHM). Kekhawatiran untuk suatu hari diminta 'angkat kaki' selalu ada.
Artikel Terkait
Aceh Terisolasi, Jembatan Penghubung Nagan Raya-Aceh Tengah Ambles Diterjang Banjir
Jalur Darat ke Aceh Tengah Masih Terputus, Korban Bencana Terus Berjatuhan
Agam dan Solok Paling Parah, Bantuan Logistik Sumbar Mulai Tersalur
MUI Serukan Shalat Ghaib dan Bantuan Nyata untuk Korban Bencana Aceh-Sumut-Sumbar