Kakak Curi Kambing Adik Demi Beli Ponsel, Ternyata Residivis

- Rabu, 26 November 2025 | 16:48 WIB
Kakak Curi Kambing Adik Demi Beli Ponsel, Ternyata Residivis

Lampung Geh, Lampung Tengah - Ini cerita tentang seorang kakak yang teganya mencuri kambing milik adiknya sendiri. Alasannya? Demi membeli handphone. Rasanya sulit dipercaya, tapi inilah yang terjadi di tengah keluarga.

Peristiwa ini berlangsung Minggu sore (23/11) sekitar pukul empat, di kawasan Bandar Jaya Timur, Terbanggi Besar. Suasana yang seharusnya tenang tiba-tiba berubah ketika Sadam, sang adik yang berusia 24 tahun, hendak memberi makan kambing peliharaannya. Betapa kagetnya dia saat mendapati hewan ternaknya itu raib begitu saja. Ia pun langsung mencari ke sekeliling, tapi hasilnya nihil. Kambing itu benar-benar hilang.

Tanpa diduga, petunjuk justru muncul di dunia maya. Sadam iseng membuka Facebook dan terkejut bukan main. Foto kambingnya yang hilang itu terpampang jelas di sebuah grup jual beli. Langsung saja ia melaporkan kejadian ini ke Polsek Terbanggi Besar.

AKP Devrat Aolia Arfan, Kasatreskrim Polres setempat, menjelaskan kronologinya.

"Korban melihat kambingnya ternyata sudah tidak ada. Dia sempat mencari di sekitar lokasi tapi tidak ditemukan,"

Berdasarkan laporan itu, polisi segera bergerak. Penyidikan pun dilakukan. Hanya dalam waktu singkat, mereka berhasil mengungkap siapa dalang di balik pencurian ini. Yang mengejutkan, pelakunya bukan orang lain. Ia adalah Iman Khoirur (25), kakak kandung Sadam sendiri.

"Pelaku merupakan kakak kandung korban, dia ditangkap pada Senin, 24 November 2025 di tempat persembunyiannya,"

Motifnya? Sederhana sekaligus menyedihkan. Rupanya, si kakak nekat mencuri demi uang untuk membeli ponsel. Parahnya lagi, ini bukan kali pertama dia berurusan dengan hukum.

"Pelaku merupakan residivis sudah 3 kali masuk penjara, diduga sengaja mencuri kambing untuk membeli handphone,"

Akibat ulahnya, Iman kini terancam Pasal 367 KUHP tentang pencurian dalam lingkup keluarga. Sebuah hubungan saudara harus ternoda hanya karena sebuah gawai.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar